#MaretMenulis 8: Nemesis di Hari Perempuan Internasional

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret hari ini, saya ingin mempersembahkan cerpen saya yang berjudul Nemesis. Cerpen ini saya buat tahun 2013, di-posting di blog PatiAgni, sebuah blog yang saya buat khusus kumpulan cerpen buatan saya sendiri (dan kemudian dijadikan buku bertajuk “Pati Agni” yang diterbitkan secara indie) dan di Wattpad. Cerpen ini saya buat dengan penuh emosi, setelah membaca banyak berita tentang pelecehan seksual dan perkosaan. Sebuah bentuk kemarahan yang cuma bisa saya lampiaskan lewat tulisan.

Selamat hari perempuan internasional, wahai sesama perempuan di seluruh dunia.

Selamat membaca.

nemesis-poem

Nemesis

By: Ita Nr.

 

Hujan telah usai, menyisakan udara dingin serta genangan air di aspal dan trotoar yang berceruk. Langit begitu gelap, awan hitam menyembunyikan bintang dan bulan, membuat malam ini terlihat lebih gelap dari biasanya. Belum juga jam sembilan, tapi suasana seperti sudah hampir tengah malam. Kendaraan masih banyak yang lewat namun mereka bisa melaju dengan cepat karena kondisi jalan yang cukup lengang.

 

Dia bergerak perlahan dalam gelap bayangan dinding pertokoan yang sebagian besar sudah tutup di sepanjang jalan. Dia berhenti di sebuah halte yang penerangannya begitu minim, hingga Dia tidak perlu mencari tempat gelap untuk bersembunyi. Dia membaur dengan beberapa orang yang berdiri di sana, di belakang bayang-bayang mereka yang gelap.

 

Di dalam sebuah bus, Tina bersiap turun di halte tempat ia biasa turun setiap ia pulang bekerja. Ia mengemas tasnya dan beberapa kantung plastik berisi barang belanja bulanan yang tadi ia beli di dekat kantor. Bus melambat mendekati halte, ia pun berjalan menuju pintu keluar.

Sambil mengapit kuat tas dan menenteng barangnya, Tina berhasil turun menerobos orang-orang yang ingin naik ke dalam bus. Namun begitu kakinya menginjak trotoar, sebuah tangan menggenggam dadanya dan meremasnya. Tina terlonjak kaget, refleks ia memiringkan badan agar terlepas dari tangan jahil itu sambil mengumpat.

“Kenapa, Dek?” tanya seorang ibu yang juga tadi turun bersamanya.

“Ada yang remas dada saya. Kurang ajar!” jawab Tina dengan suara bergetar karena marah. Dengan cepat ia memperhatikan satu persatu orang di halte dan di dalam bus yang masih berhenti di depannya, mencari tahu siapa pemilik tangan jahil itu. Ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah orang itu dan memotong tangannya, namun pasti si pelaku sudah sembunyi dan sedang senyum-senyum menjijikkan di suatu tempat. Sial!

“Astaga!” Ibu itu menunjukkan wajah prihatin. Ia memperhatikan penampilan Tina; seorang perempuan muda yang memakai kemeja abu-abu dan rok hitam selutut. Pakaian kerja yang sopan. Kemeja yang dikenakannya terkancing rapi dan tidak terlalu ketat, meski tetap ada bagian yang terlihat menonjol. Bukan salah Tina memiliki dada berukuran cukup besar seperti itu, lagipula ia sudah menutupinya dengan pakaian yang pantas. Dasar lelaki itu saja yang punya pikiran kotor, pikir si ibu.

Bus mulai bergerak meninggalkan halte. Tina pun beringsut meninggalkan halte sambil terus mengumpat dalam hati. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam bus yang langsung menghentikan lajunya. Suasana di dalam bus seketika kacau balau. Orang-orang ikut berteriak, sebagian panik berlari keluar bus. Lalu sekelompok orang keluar membopong seorang lelaki yang berteriak kesakitan keluar dari bus dan dibaringkan di halte. Wajah dan tangannya berlumuran darah. Orang-orang di sekitarnya berlari menolongnya. Beberapa di antara mereka menelepon polisi. Sebagian tertegun melihat peristiwa itu, hanya berkerumun tanpa bisa melakukan apa-apa. Termasuk Tina.

“Kenapa dia? Apa yang terjadi?” tanya beberapa orang.

“Nggak tahu. Tiba-tiba dia teriak kesakitan. Mukanya tiba-tiba berdarah, dan tangannya tiba-tiba putus,” sahut seseorang yang tadi bersama lelaki itu di dalam bus dengan suara ketakutan.

Tina merasa mual. Dengan cepat ia meninggalkan halte itu sementara kerumunan semakin ramai. Entah mengapa, meski ngeri membayangkan apa yang didengarnya, namun hatinya merasa tenang.

Ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah orang itu dan memotong tangannya.

 

Dia kini melarut bersama angin di antara bayang-bayang pepohonan. Malam semakin gelap. Udara semakin dingin. Angin berhembus lebih tinggi, membawa sebentuk kabut hitam dan mengubah-ubah bentuknya sesuai gerakan angin. Bersama semerbak wewangian yang tidak terdefinisi dan tidak terbandingkan oleh aroma apapun di dunia, Dia terus bergerak menuju tempat yang lebih gelap.

 

Entah sudah berapa lama Lena memberontak dan berteriak, berusaha melarikan diri dari angkot yang sedang melaju kencang di sepanjang jalan yang sepi. Tenaganya sudah hampir habis karena sedari tadi ia melakukan apa saja yang ia bisa untuk menyelamatkan dirinya. Sementara 4 lelaki di dalam angkot ini bersama-sama memegangi dan menahan tubuhnya hingga ia kehabisan tenaga. Jilbabnya sudah terlepas dan berpindah ke mulutnya, membuatnya tidak bisa berteriak lagi. Sementara Rudi, suaminya, yang sejak tadi dipukuli oleh mereka, dalam keadaan terluka parah dan setengah sadar dilempar keluar dan ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Setelah menjauhi jalan raya dan masuk ke perkebunan, supir menghentikan angkotnya dan ikut bergabung dengan mereka di bagian belakang.

Lena dibopong keluar dari angkot dan direbahkan di atas tanah. Ia masih berusaha melepaskan diri dari tangan-tangan berotot itu dengan sisa tenaganya. Di antara suara tawa dan celetukan-celetukan yang terdengar mengerikan sekaligus menjijikkan, Lena mendengar suara restleting dibuka. Ia menangis karena tahu apa yang akan terjadi kemudian. Ia tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Ia berteriak sekencang-kencangnya.

Lampu di dalam angkot tiba-tiba padam dan suasana menjadi begitu gelap. Tidak ada sinar bulan atau bintang sedikit pun yang bisa membuat mereka melihat apa pun di situ. Salah seorang dari mereka menyuruh yang lain untuk memeriksa. Lampu menyala sebentar lalu berkedip dan mati lagi. Angin dingin berhembus, lebih dingin dari sebelumnya. Lena menggigil kedinginan karena takut yang amat sangat.

“AAARRGGGHHH!!” tiba-tiba seseorang dari mereka berteriak, disusul teriakan temannya yang lain. Satu persatu mereka berteriak tanpa sempat bertanya apa yang terjadi pada temannya atau pada diri mereka sendiri, bersamaan dengan lepasnya cengkeraman mereka dari tubuh Lena. Tanpa membuang waktu, Lena segera berdiri dan berlari sekencang-kencangnya menjauh dari mereka. Jantungnya berdegub kencang, ia terus berlari dan berlari. Di kejauhan, erangan kesakitan dan segala jenis umpatan terdengar parau.

Lena sudah berlari jauh dan menemukan rumah penduduk yang menolongnya ketika lampu angkot menyala lagi dengan sendirinya. Dari temaram cahaya buram kekuningan itu, terlihat lima orang terkapar di atas tanah yang basah oleh genangan darah. Mereka merintih sambil memegangi selangkangan masing-masing yang bersimbah warna merah, lemah karena mulai kehabisan darah.

 

Dia memandang kelimanya dengan wajah cantik yang penuh amarah. Rambut dan jubahnya yang berwarna hitam berkibar ditiup angin. Matanya menatap mereka tajam, seolah sedang menjatuhkan hukuman dengan sorot mematikan. Perlahan rambut dan jubah itu berubah menjadi kabut tipis kehitaman, sosoknya berbaur bersama udara, meliuk bersama terpaan angin yang semakin dingin. Desau angin mengeluarkan suara merdu yang mendirikan bulu roma. Nadanya begitu tinggi hingga memekakkan telinga bagi kelima orang yang mendengarnya. Dia kembali mengendarai angin, menuju tempat lain yang tergelap.

 

Ina bersembunyi di dalam lemari, berusaha menahan nafas agar keberadaannya tidak diketahui. Suara ribut-ribut itu sudah berhenti, tepat setelah suara pukulan keras terdengar dan suara ibunya berteriak untuk terakhir kalinya. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya jam 3, ayah pulang dalam keadaan mabuk. Ibu memarahinya dan membanting hampir semua perabotan rumah ke arah ayah. Ayah tidak banyak bicara, hanya tangan kasarnya yang ia layangkan ke kepala ibu hingga ibu tersungkur membentur kursi. Kini, ayah sedang mencari Ina untuk dijadikan pelampiasan kemarahannya. Jika sedang marah, ayah tidak hanya memukul, tapi juga menelanjanginya dan melakukan sesuatu yang tidak pantas kepadanya.

Rumah itu hanya terdiri dari dua ruangan dan satu kamar mandi. Dengan ruangan sesempit itu, tempat persembunyian Ina sangat cepat ditemukan oleh ayah. Begitu pintu lemari terbuka, Ina semakin merapatkan tubuh kecilnya ke sudut lemari. Namun hanya dengan satu tangan, ayah berhasil menggendongnya keluar dari lemari dan membantingnya ke tempat tidur kayu berkasur tipis. Ina menggeliat kesakitan. Ketakutan langsung menyergapnya begitu melihat ayah menghampirinya perlahan.

Ia memohon agar ayahnya tidak melakukan hal itu lagi. Hal mengerikan yang membuatnya teramat sakit, hingga setiap buang air kecil ia berdarah. Namun ayahnya tidak menggubrisnya, malah membanting Ina sekali lagi. Dalam keadaan setengah sadar, ia masih bisa mencium bau alkohol dan melihat seseorang di belakang ayahnya. Seorang perempuan cantik berambut hitam dan berjubah hitam panjang. Dia begitu tinggi hingga tubuhnya hampir menyentuh langit-langit. Rambutnya yang hitam tergerai dan melambai seperti di tiup angin, padahal mereka sedang berada di dalam rumah yang tertutup rapat, tanpa ada angin yang bisa masuk dari jendela. Ketika bau alkohol itu semakin menyengat mendekati hidungnya, Ina tidak sadarkan diri.

Ayah menghampiri Ina yang terkulai lemas. Ia terkejut tiba-tiba di depannya muncul seorang wanita cantik berpakaian serba hitam, menghalangi tubuh Ina. Ayah pikir itu adalah halusinasi akibat alkohol yang ditenggaknya. Namun ketika wanita itu membuka mulut dan mengeluarkan asap hitam yang segera menggulung tubuhnya, ayah merasa kesakitan yang amat sangat. Tubuhnya seperti terbakar merata dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Ia tidak bisa bergerak dan tidak bisa berteriak. Hingga perlahan asap hitam itu mulai menipis lalu menghilang, tubuh ayah pun ikut hilang. Hanya tersisa bau anyir dari daging yang terbakar di bekas tempatnya berdiri.

 

Sebentar lagi fajar mulai merekah, pagi mulai menjelang. Dia memandang iba pada sosok ibu dan anak yang terkulai lemah. Namun memastikan setelah ini tak akan ada lagi yang menyakiti mereka, Dia tersenyum. Perlahan Dia mulai berubah menjadi kabut hitam yang mengapung di udara. Dia meliuk keluar melalui kisi jendela begitu terdengar kokok ayam di kejauhan. Pada saat pagi tiba, ketika Ina sadar dari pingsannya, ia akan menyadari bahwa wanita cantik berpakaian serba hitam yang semalam ia lihat itu adalah seorang Dewi.  

 

***

Advertisements

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s