#MaretMenulis 5: Di Situ Bukan Disitu

Waktu meme ‘Polwan Sedih’ mulai banyak bertebaran, terus terang saya cukup terhibur dengan berbagai macam variasinya. Saya sempat mikir, kalo saya ketawa-ketawa liat berbagai meme baru versi “di situ saya merasa sedih” apakah artinya saya termasuk “tertawa di atas kesedihan orang?” Apalagi ternyata polwan yang sekarang jadi terkenal itu benar-benar sedih karena harus meninggalkan anak-anaknya demi tugas.

Tapi bukan itu yang mau saya bahas sekarang. Lepas dari kelucuan meme-meme tersebut, saya tergelitik untuk mengoreksi tulisan yang dibuat. Kebanyakan si pembuat meme menuliskan kata “di situ” disambung jadi “disitu”. Haha, yak… grammar nazi detected! 😀

Mungkin untuk sebagian orang berpikir “nggak penting banget sih ngeributin disambung atau dipisah, yang penting orang lain ngerti maksudnya.”

Hehe… Padahal beda penulisan artinya jadi beda. Kalo “di situ” artinya menunjukkan tempat, kalo “disitu” artinya… entahlah… rasanya nggak ada kata kerja pasif “disitu” atau kata kerja aktif “menyitu”. Kalo “di situ” Bahasa Inggrisnya “there”, saya nggak tahu kalo “disitu” Bahasa Inggrisnya apa…

polwanSedih_eyd

Ya, mungkin kelihatan sepele dan saya kelihatan terlalu membesarkan masalah. Sebenarnya bukan masalah juga sih, tapi soal kebiasaan. Karena dianggap sepele itulah, makanya sekarang banyak tulisan yang seharusnya ditulis dengan benar seperti artikel, iklan, subtitle film, cerpen, komik, sampai berita yang ditulis media besar pun, sering salah tulis. Memang sih, orang akan tetap ngerti maksudnya, tapi tetap aja itu salah. Bukankah kesalahan nggak boleh dibiarkan? Karena kalo terus dibiarkan, lama-lama orang mengira bahwa itu benar.

Di situ kadang saya merasa sedih 😛

Apakah saya dosen atau guru bahasa? Haha… bukan. Saya cuma grammar nazi yang suka iseng ngoreksi tulisan orang berdasarkan kaidah EYD. Konsekuensi grammar nazi itu hampir sama seperti konsekuensi menegur orang yang buang sampah sembarangan atau merokok seenaknya. Harus siap-siap didamprat, dijutekin, atau minimal dicuekin. Haha… Tapi nggak semua kayak begitu sih. Banyak juga yang “sadar”. Saya sangat menghargai itu. Seperti saya menghargai para pembuat meme yang menulis dengan benar.

Mmm… mungkin harus ada istilah grammar nazi versi Bahasa Indonesia. Apa ya? Polisi EYD? Satpam EYD? 😛

 

Advertisements

2 thoughts on “#MaretMenulis 5: Di Situ Bukan Disitu

    1. aaaaakk.. ampun Bu Polwan EYD… saya khilaf…
      tapi maksudnya itu nggak formal sih… lebih ke gaya bahasa, bukan tata bahasa *alasan* 😛

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s