Cerita Horor Kota: Wisata Horor ke Sembilan Kota

image

Sesuai dengan judulnya, Cerita Horor Kota adalah buku tentang kisah-kisah horor yang berasal dari berbagai kota (di Indonesia). Buku ini berisi kumpulan cerita yang ditulis oleh sebelas penulis pemenang kompetisi #CeritaHororKota yang diadakan oleh penerbit PlotPoint. Terus terang aja saya tertarik beli buku ini karena dua alasan:
1. Saya suka cerita horor
2. Salah satu penulisnya adalah teman saya; Muhamad Rivai

Dari segi sampul buku, bagi saya cukup simple tapi tetap berbau horor tanpa harus ada gambar/foto bernuansa seram yang berlebihan atau font yang ke-gothic-an. Desainnya unik dengan gambar vector cakar berwarna merah yang ternyata bagian dari sampul belakang yang dilipat ke depan, font yang simple tapi tetap sesuai tema, bercak darah secukupnya, dan susunan penulis yang nge-grafis.

Daftar isinya pun nggak biasa; berupa peta Indonesia yang ditandai oleh cakar-cakar di berbagai titik daerah/kota tempat cerita-cerita menyeramkan itu berasal. Tentunya dengan judul dan penulis cerita tersebut.

Bravo buat desainer, ilustrator, dan layouter-nya!
(Kalo kata suami, desainer dan ilustrator buku itu kadang terlupakan, padahal mereka yang membuat desain, tata letak, dan gambar yang tanpa kita sadari memberikan pengaruh besar dalam membuat buku jadi enak dibaca. Coba kalo desain/gambarnya jelek, layoutnya terlalu rapat atau terlalu renggang, pasti males bacanya. *curhat colongan seorang desainer* hehehe…)

Oke, kembali ke cerita bukunya. Ada sebelas cerita dari sembilan penulis yang terus terang baru saya kenal namanya (kecuali teman saya Muhamad Rivai), tapi di situ saya langsung kagum dengan cara penuturan mereka semua (Yaiyalah namanya juga pemenang ;p ). Penulisan yang deskriptif, indah, dan alur cerita yang menarik, membuat seolah-olah saya sedang diajak berwisata horor ke kota-kota itu, diperkenalkan dengan adat istiadat dan kearifan lokal setempat, dan dipertemukan dengan makhluk-makhluk gaib yang berada di sana.

Sebagian makhluk ada yang sudah cukup populer, sebagian lagi ada yang baru saya ketahui keberadaannya dari buku ini. Alhasil saya merasa mendapatkan pencerahan dan pengetahuan baru dalam dunia gaib dan seputar mitos di berbagai daerah, selain mendapatkan ilmu baru dalam hal tulis menulis.

Dari sebelas cerita itu, bagi saya semuanya bagus-bagus tapi ada lima cerita yang paling saya suka; Dipo di Gunung Dempo, Negori Silop, Obituari Parakang, Dua Titik Merah, dan Rumah Taman Anggrek. Menarik, karena kelima cerita itu berasal dari luar Jawa. Meski tema cerita Dipo di Gunung Dempo dan Rumah Taman Anggrek sudah agak umum, namun penuturan dan jalan ceritanya bagi saya terasa cukup magis sampai saya membacanya dua kali.

Di luar kelima cerita itu, ada satu yang bagi saya cukup disturbing ketika saya membayangkan adegan yang digambarkan di cerita Gerbong Maut. Bukan soal hantunya, tapi gambaran bagaimana seratus orang yang dikurung di dalam tiga gerbong sempit dengan hanya dua jendela kecil, berpakaian karung goni yang gatal. Mereka kepanasan dan berdesakan berebut oksigen yang tersisa sampai ada yang pingsan hingga meninggal dunia. Bagi saya gambaran kondisi seperti itu lebih horor daripada gambaran hantunya. Ugh!

Sebenarnya saya kepingin mengulas kesebelas ceritanya satu per satu, tapi rasanya review ini aja sudah terlalu panjang. Jadi sudahlah, cukup review secara keseluruhan aja 😉

Intinya, buku ini bagus. Saya kasih 4 dari 5 bintang. Masing-masing cerita ada yang bagus, bagus banget, keren, dan keren banget. Menghantui, menegangkan, tapi bagi saya nggak terlalu seram. Karena saya nggak peduli dengan peringatan pada buku ini agar tidak membacanya sendirian, saya justru baca buku ini ketika saya sendirian. Hihihi.. :p

Advertisements

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s