Review Sentimentil untuk Kematian yang Sentimentil

Rasanya terharu, mengetahui seseorang yang baru kita kenal mengapresiasi karya kita dan menulis review yang indah-indah tentang karya itu. Saya nggak nyangka buku saya ternyata bisa punya nilai sentimentil bagi seseorang, dan bisa terdengar begitu sentimentil karena review-nya yang sentimentil. Ditulis oleh Oming Putri dengan kalimat demi kalimat yang indah, review-nya bukan cuma membahas buku “Pati Agni” aja, tapi juga cerpen saya yang berjudul “The Mirror“, sampai membahas project Aditita Bercerita yang saya kerjakan bareng suami. Tapi di atas itu semua, review itu sebenarnya adalah sebuah curahan hati yang sarat emosi, tentang perasaan menghadapi kematian Pakde. Itulah yang membuat review itu begitu sentimentil.

Sebenarnya saya mau salin semua tulisan Oming di sini, tapi kayaknya kepanjangan dan rasanya jauh lebih enak kalo bacanya langsung di blog-nya. Jadi saya cuma akan salin beberapa bagian aja sebagai highlight. Bagian favorit saya ^_^

 

Tapi, di antara kisah-kisah itu, ada satu kisah yang paling saya suka. Judulnya “Nemesis”. Jika kisah yang lain cenderung membuat sedih dan terenyuh, “Nemesis” memberikan perasaan lega dan senang. Ini karena “Nemesis” bercerita tentang dewa-dewi kematian yang menyelamatkan manusia dari kekejaman manusia lain dengan cara yang mengerikan. Mereka memotong kelamin para pemerkosa, mensabit tangan pencabul sampai putus, dan membakar seorang ayah yang ingin melecehkan anak perempuannya sendiri. Ini adalah kisah yang mampu menyalurkan ego saya untuk membunuh penjahat-penjahat kejam yang berkeliaran di luar sana, tanpa harus melakukannya sendiri di dunia nyata karena terhalang hukum dan etika. Terimakasih untuk Mbak Ita karena sudah memasukkan kisah seperti ini dalam Pati Agni. Saya senang sekali.

Haha.. Tepat sekali. Memang itu tujuannya. Setidaknya, tujuan saya waktu menulis cerita itu. Saya menulisnya dengan emosi tinggi setelah membaca dan melihat berita tentang pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan pada anak. Saya ingin sekali melihat mereka dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatan mereka. Hukuman-hukuman sadis yang dijatuhkan oleh Nemesis adalah keinginan saya yang terpendam, yang ingin saya lakukan pada penjahat-penjahat itu. Tapi karena saya tidak bisa berbuat apa-apa, jadi saya cuma bisa menuangkannya ke dalam tulisan.

 

Saya diajarkan oleh Pati Agni untuk sekali-sekali belajar sentimentil ketika berhadapan dengan kematian. Bahwa kematian bukanlah hal yang biasa, sehingga patut dihadapi dengan tidak biasa pula. Bahwa kisah sebelum orang itu mati, bagaimana itu lalu mempengaruhi cara ia mati, dan bagaimana ia lalu dikenang, perlu direspon dengan nurani.  Inilah yang membuat kematian perlu ditanggapi dengan sentimentil karena dengan begitu hidup seseorang menjadi sangat penting.

Ah, ternyata menulis tentang kematian tetap ada nilai pembelajarannya. Senang rasanya buku saya bisa membawa pengaruh baik untuk orang lain.

Terima kasih, Oming. Kalau sedang berdoa untuk Pakde, aku titip salam, ya… 🙂

 

Link:

Pati Agni: Kematian yang Sentimentil

 

Advertisements

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s