Disambung atau Dipisah?

Saya bukan guru bahasa, bukan editor majalah/koran, bukan juga penulis terkenal, tapi saya cuma hobi nulis, yang kebetulan agak ‘sensitif’ sama tata bahasa. Bukan berarti juga saya tahu segalanya dan benar terus. Adakalanya juga saya ragu, nggak tahu, dan bisa jadi salah, untuk itu biasanya saya cari tahu jawabannya dan cari referensi sebanyak-banyaknya untuk nambah pengetahuan juga. Trus hasilnya di-sharing deh ke sini 😉

Sebagai orang yang rada ‘sensitif’ sama tata bahasa, saya jadi suka ‘sensitif’ sama tulisan-tulisan yang ‘salah tempat’, baik itu di tulisan yang kasual (di status atau komentar sosmed), semi formal (di blog, cerpen, fiksi mini, dll) apalagi yang formal (artikel, iklan, dll). Rasanya gemes pengen benerin aja 😀 Kalo tulisan kasual sehari-hari salah, ya… saya bisa pura-pura nggak liat atau buru-buru skip meski sebenernya gemes juga sedikit 😛

Nah yang suka bikin gemas banget mau benerin itu yang di tulisan semi formal dan formal. Sering saya lihat, cerita/tulisan bagus tapi tata bahasanya kurang diperhatikan. Bukan soal gaya menulis, ya… Kalo gaya menulis kan bebas-bebas aja. Tapi kalo tata bahasa kan ada kaidah/aturan tertentu yang udah ditetapkan. Jadi buat yang hobi nulis juga, mulailah perhatikan dan peduli pada kaidah-kaidah itu. Kenapa? Karena selain kita jadi bisa menulis yang lebih baik dan benar, nanti kalo dibaca sama orang lain/adik-adik/anak-anak kita yang baru belajar, mereka bisa menyerap hal yang benar dari kita. Kalo kita nulisnya salah, nanti yang baca dan menyerap tulisan kita jadi ikut salah juga. Iya, kan?

Anyway (panjang juga ya pembukaannya), lagi-lagi saya mau ngebahas soal tulisan yang sering ‘salah tempat’. Meski udah pernah saya bahas sebelumnya, persoalan “disambung atau dipisah” ini masih mau saya bahas lagi, bukan cuma kata ‘di’ tapi juga kata-kata yang lain. Tapi kali ini saya nggak akan susah-susah bilang yang ini kata depan yang itu imbuhan lah, cukup dengan fungsi dan artinya aja biar lebih praktis.

Okey, here we go…

  • di 

DISAMBUNG jika menyatakan kata kerja pasif

contoh: ditulis, dihapus, diambil, dipelajari, dimakan, dikerjakan, diwajibkan, dianggap, dibeli, dijual.

DIPISAH jika menyatakan arah atau tempat

contoh: di timur, di sekolah, di mana, di sana, di awal, di akhir, di luar, di setiap sudut, di balik pintu, di relung hati.

Beberapa kata ada yang bisa ditulis disambung dan dipisah sesuai fungsinya, apakah itu menyatakan kata kerja pasif atau tempat, dengan arti yang berbeda. Misalnya:

Dibalik = bentuk kata kerja pasif dari “membalik”
Di balik = di bagian sebaliknya
Dipenjara = bentuk kata kerja pasif dari “memenjarakan”
Di penjara = di (dalam) penjara
Diserang = bentuk kata kerja pasif dari “menyerang”
Di Serang= di wilayah Serang, Jawa Barat

Ditempatkan = kata kerja
Di tempat =mengacu lokasi

Contoh kalimat:

Kursi itu dibalik seseorang di balik layar.

Ia dipenjara di penjara bawah tanah.

Banyak sawah di Serang gagal panen karena diserang hama.

Barang-barang ditempatkan di tempat yang seharusnya.

 

See? beda penulisan, artinya bisa beda kan? 😉

 

Memang, dulu pernah ada ejaan yang memberlakukan awalan dan kata depan ‘di’ kedua-duanya ditulis serangkai atau digabung dengan kata yang mengikutinya. Kata depan ‘di’ pada contoh “di pasar” ditulis –> “dipasar”, nggak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada “dibeli”. Ejaan itu namanya Ejaan Republik atau Edjaan Soewandi. Sejak tahun 1972 ejaan itu udah nggak berlaku lagi, digantikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), yang berlaku hingga sekarang.

 

Lanjutttt…

 

  • ke

– DISAMBUNG  jika menyatakan kata kerja atau kuantitas.

contoh: kepada, kemari, kedua anak , kelima orang.

– DIPISAH  jika menyatakan arah atau tempat.

contoh: ke mana, ke sini, ke sana, ke bawah, ke samping, ke Bandung, ke lapangan, ke depan, ke dalam.

DITULIS ‘ke-‘ jika menyatakan nomor urut.

Contoh: Dia anak ke-2 dari 4 bersaudara. 

 

Beberapa kata ada yang bisa ditulis disambung dan dipisah sesuai fungsinya, sesuai dengan lawan katanya.

Keluar = lawan kata dari “masuk”
Ke luar = lawan kata dari “ke dalam”

 

 

  • pun

– DISAMBUNG  jika menyatakan penegasan.

contoh: adapun, meskipun, bagaimanapun, sekalipun, kalaupun.

– DIPISAH  jika menyatakan juga atau saja.

contoh: saya pun akan melakukan hal yang sama.

 

 

  • nya

DISAMBUNG jika menyatakan kepemilikan orang ketiga atau menunjukkan sesuatu atau sufiks murni.

contoh: kulitnya, tasnya, ibunya, anaknya, pamannya, perhatiannya, semuanya, miliknya, biasanya, rupanya, misalnya.

DITULIS “-Nya” jika menyatakan kepemilikan Tuhan.

contoh: Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.

 

Catatan: Akhiran ‘nya’ tidak ada yang ditulis terpisah, apalagi diganti dengan “x” -__-”

 

 

Yak, untuk sementara cukup segitu dulu kali, yaa… Masih banyak sih penulisan yang salah-salah yang sering bikin gemas, tapi nggak sebanyak pemakaian yang dibahas di atas. Kapan-kapan lah saya bahas lagi, setelah saya cari referensi-referensi tentunya dan kalo nggak males ;p

Sekali lagi, saya bukan mau menggurui, tapi cuma sekadar berbagi ilmu, terutama buat temen-temen yang suka nulis. Sayang kan ceritanya bagus-bagus, konsepnya keren, tapi tulisannya nggak sesuai dengan aturan yang berlaku? Mungkin orang tetap akan mengerti meski kita salah tulis, tapi bukankah lebih baik lagi kalo kita benar-benar menulis dengan benar? Supaya orang yang membaca jadi benar-benar mengerti, terutama untuk orang-orang yang baru belajar Bahasa Indonesia. Orang-orang itu bisa aja teman kita yang bule, adik-adik kita yang lagi belajar mengarang atau bikin cerpen, atau anak-anak kita yang sedang mengerjakan PR Bahasa Indonesia.

Kalau kita terbiasa menerapkan hal yang benar dan sesuai aturan di kehidupan sehari-hari yang keliatannya remeh (misalnya nulis status, komentar, email kasual, SMS, dll…), otomatis untuk hal-hal yang lebih penting (misalnya nulis skripsi, makalah, email kerjaan, artikel, cerpen, ngajarin adik/anak, dll…) juga jadi benar, kan? 😉

Oke, deh… Selamat menulis ^_^

 

Referensi:

Daftar Kosakata Bahasa Indonesia yang Sering Salah Dieja

Penulisan ‘di-‘ dan ‘ke-‘

Cara Menggunakan “di” dalam Bahasa Indonesia

Penulisan “di” yang benar

 

Advertisements

16 thoughts on “Disambung atau Dipisah?

  1. Pingback: “Di”-nya Disambung atau Dipisah? | sigota

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s