Chop off Their Raping Tool 2

Akhir-akhir ini lagi banyak kasus tentang perkosaan dan sodomi yg dilakukan terhadap anak di bawah umur. Wait, akhir-akhir ini????

Nope. Bukan cuma akhir-akhir ini. Perasaan dari dulu sampai sekarang berita semacam itu terus menghantui. Hampir setiap hari, bahkan dalam 1 hari bisa lebih dari 1 kasus, dengan pelaku 1 orang atau beramai-ramai, terhadap korban yang masih di bawah umur atau udah dewasa. Berapapun usia korban, mereka pasti akan mengalami kesakitan, trauma, depresi yg amat sangat.

Saya masih ingat betul, dulu waktu saya masih sekolah (SMP atau SMA) ada kasus anak sekolah yg disekap dan diperkosa oleh 22 org pemuda. Saat itu banyak orang tua yang was-was akan keselamatan anak-anak putrinya. Beberapa di antara orang tua termasuk orang tua saya melarang anak putrinya pergi jauh-jauh, jangan keluar sampai malam, dan nggak boleh pergi sendirian. Kasus itu hanya salah satu dari kasus perkosaan lainnya pada masa itu. Sampai sekarang berita tentang perkosaan seperti nggak ada habisnya, dari kasus satu lanjut ke kasus lain dalam waktu yang berdekatan, dengan jumlah pelaku yang beragam.

Saya jadi bertanya-tanya, apa kabar anak perempuan itu sekarang? Usianya pasti udah jauh lebih dewasa, tapi sakit dan trauma pasti masih terasa. Apakah ia bisa survive atau bunuh diri karena depresi? Kalau masih hidup, apa yg ia rasakan ketika membaca berita-berita tentang perkosaan sekarang ini? Kita aja ngilu bacanya, gimana perasaan orang yang dulu pernah jadi korban? Pasti luka lamanya yang belum kering dan nggak pernah kering itu kembali basah dan berdarah. Saya lupa berapa tahun hukuman para pelaku waktu itu, tapi mengingat masa hukuman yang ringan berdasarkan what-so-called undang-undang, saya rasa sekarang mereka udah bebas. Entah sudah insaf atau malah cari korban baru, pokoknya enak deh udah bebas. Sementara si korban masih harus membawa penderitaan fisik dan batin seumur hidupnya. Belum lagi kalau ternyata ia tertular penyakit dari pelaku. Mungkin lebih baik mati aja kali, ya?

Masih ingat nasib mahasiswi yang diperkosa beramai-ramai di angkot lalu dibunuh? Masih ingat nasib seorang ibu yang mau ke pasar tapi malah diperkosa dan dibunuh? Masih ingat nasib para korban Robot Gedek yang disodomi dan dimutilasi? Masih ingat nasib seorang mahasiswi di India yang diperkosa di dalam bus dan dihajar sampai meninggal? Apakah nasib mereka yang direnggut kehormatannya lalu dibunuh masih lebih baik ketimbang yang tetap hidup dalam trauma? Nggak ada yang lebih baik. Nggak ada satu pun kondisi dari kedua pilihan itu ada yang lebih mendingan dibanding yang lain. Nggak ada satu pun manusia yang pantas diperlakukan begitu! Kalo ada manusia yang melakukannya, dia nggak pantas disebut manusia lagi!

Ketika mereka melakukannya, mereka merampas masa depan korban. Lalu apa hukumannya? Maksimal 15 tahun penjara, yang ada biasanya cuma dikasih 3-5 tahun. Apa sebanding dengan penderitaan fisik dan psikologis korban??? Bahkan hukuman 15 tahun aja ga sepadan! Harus ada hukuman yang seberat-beratnya, yang setimpal dan sebanding dengan penderitaan yang dialami korban:

KEBIRI!

Korban diperkosa berapa kali dan oleh berapa banyak orang, sebanyak itu pula hukuman yang harus diterima pelaku. Misalnya, pelaku berjumlah 10 orang, maka hukumannya adalah potong alat kelamin si pelaku jadi 10 bagian. Persetan dengan HAM. Itu adalah bayaran atas rasa sakit fisik yang diderita korban. Kehancuran masa depan dibalas dengan kehancuran masa depan. Kerusakan alat kelamin harus dibayar dengan kerusakan alat kelamin juga. Adil.

Secara psikologis, korban mengalami trauma dan depresi yang akan dibawanya seumur hidup sampai mati. Hukuman yang pantas untuk membayar penderitaan psikologis korban adalah pelaku ditato pada jidatnya dengan tulisan: I’M A RAPIST PIG. Tato itu nggak boleh diapus. Dengan begitu pelaku juga akan menanggung hukuman psikologis seumur hidupnya.

Biar pada kapok dan ga bakal lagi mengulangi perbuatannya. Atau buat yang punya niat, lantas mengurungkan niatnya. Hih!

Bagaimana dengan hukuman mati? Sama aja, itu juga nggak sepadan. Enak banget abis menghancurkan hidup orang trus mati begitu aja, ga menanggung hukuman dan penderitaan seumur hidup seperti korbannya. Intinya kalo udah bikin hidup korban menderita, si pelaku juga harus menderita. Selesai.

 

Advertisements

3 thoughts on “Chop off Their Raping Tool 2

    1. iyaa emang biar kayak film ituu.. atau kalo mau pake bhs Indonesia: “saya babi pemerkosa” biar lebih jelas lagi. biar pada kapoookkk >_<

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s