Grammar Nazi

grammar-nazi-demotivational-posternoun (pl. -s)

1. A person who uses proper grammar at all times, esp. online in emails,chatrooms, instant messages and webboard posts; a proponent of grammatical correctness. Often one who spells correctly as well.

2. a – A person who believes proper grammar (and spelling) should be used by everyone whenever possible. b – One who attempts to persuade or force others to use proper grammar and spelling. c – One who uses proper grammar and spelling to subtly mock or deride those who do not; an exhibitor of grammatical superiority. d – One who advocates linguistic clarity; an opponent of 1337-speak. e – One who corrects others’ grammar; the spelling police.

Baca selengkapnya di Urban Dictionary.

Saya nggak tahu apa istilah untuk Grammar Nazi dalam Bahasa Indonesia. Nazi Tata Bahasa, mungkin? 😛

Tapi yang jelas, sering saya nggak bisa menahan diri kalau ada yang salah menulis ejaan atau tata bahasa, baik Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Biasanya kalau saya tahu dan yakin kalau tulisan orang itu salah, saya akan langsung mengoreksinya, meski bukan itu yang menjadi pokok pembahasannya. Kalau saya merasa tulisan itu salah tapi nggak yakin, saya akan cek kamus online sebelum saya mengoreksinya. Tapi kalo nggak tahu, ya saya nggak akan bilang apa-apa.

Bukannya saya merasa pintar banget untuk urusan Bahasa, apalagi Bahasa Inggris saya juga nggak bagus-bagus amat, tapi saya merasa kalau ada kesalahan dan ada yang tahu itu salah, kenapa nggak diperbaiki? Anggap aja kita semua sedang sama-sama belajar. Malah di blog Pati Agni versi Bahasa Inggris saya mengundang para Grammar Nazi untuk mengoreksi bila ada kesalahan di tulisan saya. Karena saya mau belajar dan ingin jadi lebih pintar 😉

Tapi sayangnya, niat baik orang-orang yang mengoreksi tulisan orang lain itu kadang – atau sering – dianggap mengganggu. Bukannya diapresiasi dengan baik, malah dianggap nggak penting, bukan pokok utama tulisan/diskusi, sok pintar, menggurui, dll. Komentar yang rada miring sampai pedas tingkat tinggi pun dilontarkan sebagai reaksi atas aksi para Grammar Nazi ini. Setelah itu, tetap melakukan kesalahan yang sama.

Padahal kalau kita bisa berpikir positif, Grammar Nazi bukan orang sok tahu yang mencari-cari kesalahan orang lain lalu menunjukkannya ke seluruh dunia seolah-olah orang itu bodoh. Grammar Nazi hanya orang yang nggak tahan melihat sesuatu yang salah dan ingin memperbaikinya, supaya kesalahan itu nggak terulang lagi, baik dilakukan oleh orang yang sama atau orang lain. Gitu aja.

Kata yang dikoreksi oleh Grammar Nazi juga yang teknik dan prinsip sih sebenarnya, bukan konten atau gaya menulisnya. Kata yang jika ditulis salah, artinya bisa salah, maknanya bisa lain, itu yang menjadi bahan koreksian si Grammar Nazi. Memang sih dalam kalimat meski ada kata yang salah, orang lain sudah mengerti maksudnya secara keseluruhan. Tapi kalau kesalahan dibiarkan terus, kan lama-lama hal itu dianggap lumrah bahkan bisa dianggap benar. Nah para Grammar Nazi ini merasa ada ganjalan bila hal ini dibiarkan.

Tapi yaa kalau sudah dikasih tahu yang benar tapi malah protes dan melakukan kesalahan yang sama atau yang lain lagi, bukan Grammar Nazi yang membuat orang itu terlihat bodoh, melainkan orang itu sendiri, kan?

That grammar nazi’s an ass, but he is right that you’re stupid. (Urban Dictionary)

Haha… No offense 😛

Yaa.. Apa susahnya sih menerima kritik dan memperbaiki diri? Itu kan untuk kebaikan kita juga… Kita jadi tahu kesalahan kita di mana dan jadi tahu mana yang tulisannya benar. Kalau ada yang mengoreksi kata-kata di tulisan kita, anggap aja lagi dikasih les bahasa gratis. Kan supaya kita bisa ngajarin keponakan dan anak-anak kita juga nantinya 😉

*gambar diambil dari motifake.com

Advertisements

2 thoughts on “Grammar Nazi

  1. “Padahal kalau kita bisa berpikir positif, Grammar Nazi bukan orang sok tahu yang mencari-cari kesalahan orang lain lalu menunjukkannya ke seluruh dunia seolah-olah orang itu bodoh. Grammar Nazi hanya orang yang NGGAK TAHAN melihat sesuatu yang salah dan ingin memperbaikinya, supaya kesalahan itu nggak terulang lagi, baik dilakukan oleh orang yang sama atau orang lain.”

    segala kemungkinan dan motif para grammar nazis sudah tertulis disana, well said. Masalahnya dunia ga “se positif” loe kira. ga usah jadi bgitu naif dan poloslah pasti ada aja grammar nazis yg mengoreksi untuk mempermalukan, apalagi di dalam sebuah debat, beuhh mereka pikir itu mujarab dan dapat menguatkan argumen mreka serta menjatuhkan lawan debatnya. Nah khusus kata yang saya perbesar, terlihat jelas seperti suatu gejala penyakit mental OCD yah? bisa saja orang yang tak tahan untuk tidak mengoreksi mengidap penyakit itu. so what I’m trying to say is…. boleh saja mengoreksi grammar selama masih dalam TAHAP WAJAR, dan yg paling penting TIDAK menyinggung, tidak kasar, tidak menggurui dan tidak merendahkan. karena ini bukan haya sesimpel masalah “mengoreksi dan dikoreksi”. tapi juga PASTI orang yg dikoreksi merasa terluka egonya dan merasa inferior, kecuali yg mengoreksi adalah PURE NATIVE SPEAKER, nah itu udah absolutely no quetion needed. mahasiswa psikologi pasti ngerti. so loe harus ” ngertiin” orang yg mau loe koreksi BUKAN SEBALIKNYA, cause ini masalah cukup sensitif. Makanya ga heran grammar nazis di internet sangat dibenci

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s