“Di”-nya Disambung atau Dipisah?

Saya sering gemas kalo melihat ada tulisan “di” atau “ke” disambung atau dipisah dengan tidak semestinya; yang seharusnya disambung malah dipisah, yang mestinya dipisah malah disambung. Mungkin kelihatannya hal kecil, tapi kalo tulisan yang salah itu ada di media massa, kan bisa bikin orang lain menganggap bahwa itu benar. Sehingga jadi banyak yang nggak bisa membedakan antara “di” atau “ke” sebagai awalan atau kata depan. Entah karena bingung, nggak tahu, atau memang nggak peduli sebenarnya.

Yaa nggak bisa disalahin juga sih, karena seperti yang saya bilang tadi, sudah terlalu banyak teks-teks yang salah itu tersebar dan dilihat oleh umum, baik di media massa atau non-media, cetak maupun elektronik, formal atau informal, dengan ukuran font yg beragam mulai dari yang kecil sampai yang seukuran billboard. Yang jadi pertanyaan saya adalah, kalo sampai tulisan yang salah itu terpampang di media massa atau di iklan, apa memang nggak ada editornya? Masa sih sama sekali nggak ada yang tahu bagaimana penulisan yang benar?  Kalau nggak, cari tahu di internet untuk memastikan apakah penulisannya benar atau salah. Atau memang itu dianggap hal sepele? Mirisnya, jika ada yang mengoreksi kesalahan itu, kadang malah dianggap nggak penting dan dianggap terlalu membesar-besarkan masalah. Errrr….

Saya memang bukan ahli bahasa. Saya sedikit mengerti tentang tata bahasa Indonesia karena saya senang mempelajarinya. Untuk soal “di” dan “ke” dipisah/disambung ini pun saya berkali-kali cari referensi untuk belajar, supaya saya nggak salah tulis dan supaya bisa kasih penjelasan jika ada yang tanya. Kadang menjawab pertanyaan dengan bilang “Kalau sebagai awalan, disambung. Kalau sebagai kata depan, dipisah” itu nggak bisa langsung bikin puas yang tanya, biasanya saya jelaskan lagi dengan cara saya:

“Kalau di + kata kerja atau menjadi kata kerja pasif, itu disambung. Kalau di + selain kata kerja, itu dipisah.”

“di” + kata kerja atau menjadi kata kerja pasif, misalnya: dibaca, ditulis, dimengerti, dilakukan, diterima.

“di” + selain kata kerja, misalnya: di Jakarta, di rumah, di jalan, di mana, di sana, di saat, di tempat.

Selagi cari-cari referensi, di antara beberapa artikel yang serupa, saya menemukan blog ini yang saya pikir lebih enak penjelasannya daripada yang lain. Berikut saya kutip kesimpulannya:

  • Semua kata (yang diikuti ”di”) yang TIDAK BISA DIUBAH menjadi kata untuk kalimat aktif, itu berarti ”di” yang mengikutinya merupakan ”KATA DEPAN” dan dalam penggunaannya DIPISAH dengan kata yang diikutinya.
  • Semua kata (yang diikuti ”di”) yang BISA DIUBAH menjadi kata untuk kalimat aktif, itu berarti ”di” yang mengikutinya merupakan ”IMBUHAN” dan dalam penggunaannya DIGABUNG dengan kata yang diikutinya

Jadi, untuk para copywriter, jurnalis, dan siapapun yang suka menulis, yang selama ini belum memperhatikan EYD, mohon perhatikan EYD ketika membuat tulisan. Bukan berarti harus kaku, boleh bebas asalkan benar. Kalau bukan kita yang mencintai bahasa kita sendiri dan menggunakannya dengan baik dan benar, siapa lagi? 😉

 

update:

pembahasan lebih banyak lagi beserta kata-kata lainnya saya lanjutkan di sini. Yuk, mariii…

 

Advertisements

33 thoughts on ““Di”-nya Disambung atau Dipisah?

  1. hahaha. di kantor, aku sering jadi editor tidak resmi untuk surat dan email berbahasa Indonesia dan kasus “di” ini adalah kasus yang paling sering terulang. sampe bosen ngingetinnya hahaha

    • hahaha… sama, di kantor yang lama juga begitu. Saking bosennya, akhirnya kalo ditanya lagi saya lgsg jawab aja “disambung” atau “dipisah” tanpa penjelasan xD

  2. Pingback: Statistik Blog | sigota

  3. Pingback: Disambung atau Dipisah? | sigota

  4. tapi kalo tulisan yang salah itu ada di media massa, kan bisa bikin orang lain menganggap bahwa itu benar.

    ^ setuju bgt kak, akhirnya ada paradigma mayoritas adalah benar, sekalipun itu salah menurut hukum yg berlaku #plak #emgapaan

    Selain “di” dan “ke”, byk (banget) juga kekeliruan penulisan mata uang >_<
    Tp itu sy jrg protes siy, berhubung sy juga baru tau pas kuliah.. Tp ttp menyedihkan kalo restoran2 terkenal, atau bahkan koran yg udh tenar sekalipun menulis Rp 2000,00 atau Rp. 2000,00, bukannya Rp2000,00

  5. Kl ane sih lebih enak membedakannya dengan membandingkan menggunakan imbuhan me-,
    kayanya sih hampir semua setiap kata yang dapat menggunakan imbuhan me-, men-, dan meng- (belum termasuk imbuhan akhir kata) artinya jika menggunakan imbukan di- harus digabung (kata guru ane semasa SMA).
    Contoh:
    # Digabung
    ditulis – menulis
    dibaca – membaca
    dipikir – memikirkan
    diminum – meminum

    # Tidak digabung
    di mana – me mana
    di sana – me sana
    di rumah – me rumah
    di pasar – me pasar

    Tetapi beda kasus jika kata dasar yang digunakan menjadi kata kerja.
    Contoh:
    di pasar – memasarkan
    di jalan – menjalankan
    di tempat – menempatkan

    Oiya, jangan lupa juga setiap kata dengan awalan huruf K, T, S, dan P (KaTeSaPe) jika memiliki imbuhan di awal, huruf pertama dari kata tersebut harus dihapus (sepertinya harus diganti dengan huruf N/M/NG).
    Contoh:
    Kurang – MeNGurangkan
    Tempat – MeNempatkan
    Sulit – MeNyulitkan
    Pijat – MeMijat

    Haahaa… Sebenarnya ane buta dalam berbahasa. Jadi maaf ya, sedikit banyak ngoceh di sini. 😀

    • Digabung, gan. Jadi “di lain waktu”.

      Utk gampangnya, kalo kata + di digabung itu jadi kata kerja pasif. Kalo ga jadi kata kerja pasif, berarti nulisnya dipisah.

  6. “Di” yang si pisah kan:
    Di rumah
    Di jalan
    Di kelas
    Di saat
    Di dalam
    Di bandung
    Di kampung
    Di mobil
    Di awal
    Di hadapan
    Di luar
    Di bandara
    Di laut
    Di pasar
    Di hati
    “Di” yang di satukan kan:
    Dimakan
    Diminum
    Diketahui
    Dibaca
    Ditulis
    Dilakukan
    Diterima
    Diharapkan
    Diduga
    Diperkirakan
    Ditambah
    Dilakukan
    Dicintai
    Diputuskan
    Dibereskan
    Ditidurkan
    Dipukul
    Disakiti
    Dibela

    Cuma segini yang bisa saya kasih. terima kasih semoga bermanfaat

  7. nah ini nih xD aku gemas sendiri tiap kali aku menemukan kata-kata yang salah kepenulisannya xD kalau sedang ngedit saja jika sampai missed sedikit nyesalnya nggak ketulungan xD apalagi aku sering berurusan dengan akta notaril yang hampir, kuulangi, hampir dari setiap akta yang kubaca itu banyak yang nggak sesuai EYD, apalagi kalau sudah ada kata “merubah” (ini sepertinya udah terjadi turun temurun, ya? aku agak sedih kalau ingat kata yang satu ini). aduh, kalau aku ada di anime itu udah muncul banyak perempatan di sekitar kepala dan pinggir mataku. perbedaan dari kata aslinya jauh sekali, membuatku ingin menangis miris :’v great article, btw. menambah wawasan. btw, aku koreksi sedikit, setahuku, kata “memperhatikan” itu melebur jadi “memerhatikan”. CMIIW.

    Ciao!

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s