Smoker vs Non-Smoker

5807_0_lungs___smoker_vs_non_smokerBaca twit @BlogDokter tentang #rokok, dan reply dari beberapa teman, jadi ingat saya pernah menulis opini di blog Multiply saya yang dulu (sekarang udah dipindahin ke sini) tentang rokok dan perokok. Beberapa tahun yang lalu saya pernah berdebat cukup seru dengan beberapa teman di facebook, waktu saya bikin status hasil copas dari status orang lain tentang himbauan untuk para perokok agar memakai kantong plastik di kepalanya jika sedang merokok, jadi asapnya kalian telan aja sendiri, nggak mengganggu orang lain. Saya sempat mendapat perdebatan sengit dari teman yang perokok, katanya: “kenapa bukan non-smoker aja yang pake kantong plastik?” Dari perdebatan-perdebatan itu, salah seorang mengajukan pertanyaan ke saya: “Dulu bukannya elo ngerokok juga? Nanya aja sih…”

Hehe.. ya, iya saya juga dulu ngerokok. Tapi non-reguler; cuma sesekali, di saat-saat tertentu, dengan orang-orang tertentu, dan di tempat-tempat tertentu. Bukan setiap saat dan di mana aja. Itu pun awalnya saya perokok pasif, dulu saya pikir mending sekalian ikut ngerokok aja. Tapi udah lama sekali saya berhenti. Dan sejak berhenti, saya jadi sensitif sekali dengan asap rokok; hidung jadi gatal, napas jadi sesak, belum lagi bau yang menempel di pakaian. Sejak itu juga sebisa mungkin saya menghindar dari para perokok.

Sering saya dengar atau baca keluhan non-smoker yang ‘terjebak’ di lingkungan para smoker, biasanya lingkungan kerja. Ketika bekerja itu penting sekali kita merasa nyaman dan dalam kondisi sehat. Nggak enak rasanya berada di ruangan ber-AC, tertutup, namun penuh dengan asap rokok. Mungkin bagi para smoker, kondisi seperti itu adalah kondisi yang nyaman buat mereka. Tapi buat para non-smoker, kondisi seperti itu amat sangat nggak nyaman. Sialnya, jika non-smoker adalah kaum minoritas di kantor itu, maka dia nggak bisa berbuat apa-apa kecuali ngedumel dalam hati. Karena kadang, negor si smoker dengan cara baik-baikpun hasilnya nggak baik. Pernah si pacar negor seniornya yang ngerokok di ruangan kerja, kalo asapnya ke arah dia. Selain bikin nggak enak napas, baju juga jadi bau. Negornya udah penuh perasaan, pake maaf segala, dijawabnya pake emosi, “emang salah gue asapnya ke arah situ??”

Hadeh! #-o

Akhirnya sekarang pacar kalo kerja setiap hari pake masker untuk menghindari asap rokok dari semua koleganya. Apa persoalan selesai? Nggak juga. Ruangan kerjanya tetap panas karena penuh asap rokok, nggak nyaman, mata jadi perih, selain itu baju, jaket, tas, semua pada bau rokok >_<

Para smoker itu sering meng-atas namakan mulut asem dan hak asasi manusia untuk bebas merokok. Tapi mereka justru melanggar hak asasi orang lain untuk mendapat udara bersih dan hidup sehat. Banyak smoker yang berbaik hati merokok di luar atau di tempat yang disediakan, atau menjauh ke tempat yang nggak mengganggu orang lain. Tapi nggak sedikit juga smoker yang nggak peduli dengan orang lain; yang penting mereka merokok, mulut mereka nggak asem. Kalo ada yang nggak suka, silakan pergi. Titik. Nggak ada toleransi.

Alhasil, biasanya yang akhirnya mengalah adalah si non-smoker. Mereka akan tetap di ruangan itu karena itu ruangan kerja. Ya kalo pergi, mau kerja di mana? Atau kalo sedang rapat di restoran/cafe di smoking area, masa si non-smoker harus meninggalkan rapat? Padahal dengan ikut duduk di smoking area, selain kena asap rokok dari teman-temannya yang smoker, dia juga kena asap rokok dari para smoker lain di ruangan itu. Perokok pasif double combo! Trus kalo si non-smoker akhirnya sakit, apa para smoker itu peduli? Padahal kalo yang ngalah si smoker kan nggak ada yang dibikin sakit. Kalo mulut asem, kan bisa tinggal ke smoking area untuk merokok. Lalu silakan menyakiti diri sendiri.

Saya nggak akan bilang kalo merokok itu mengganggu kesehatan blablabla, saya nggak peduli oleh kesehatan para smoker. Terserah mereka mau merokok dan membakar paru-parunya sendiri, asal jangan merokok sembarangan dan membuang asapnya hingga masuk ke paru-paru orang lain yang nggak merokok, atau mengajak orang non-smoker ke smoking area dan membiarkan si non-smoker kemasukan asap rokok dari semua smoker yang ada di situ. Itu nggak adil. Kalo kalian mau merusak paru-paru sendiri, silakan. Jangan rusak paru-paru orang lain.

Kalopun harus seruangan dengan non-smoker, fleksibel sedikit lah, jangan egois dengan tetap merokok di dalam ruangan. Kalian nggak ngerokok sebentar atau harus keluar dari ruangan kalo mau merokok, kan nggak ada ruginya dan nggak akan mati. Tapi kalo non-smoker menghisap asap rokok kalian secara terus menerus, si non-smoker banyak ruginya dan bahkan lama-lama bisa mati -_-”

gambar diambil dari sini

Advertisements

5 thoughts on “Smoker vs Non-Smoker

  1. Meroko sangat berbahaya,Selain bisa menimbulkan kematian merokok juga bisa melahirkan generasi Goblok.
    Di dalam rokok mengandung nikotin dan melemahkan sel-sel pada otak istilahnya orang yang merokok pasti malas dan menganggapnya santai suatu hal padahal hal itu sangatlah penting(Bukti ini bisa ditemukan dimana-mana).

  2. ngacung! saya dah divonis perokok pasif sama dokter.

    paru2 cacat seumur hidup. padahal ngerokok aja ga pernah sama sekali.

    trus mikir, apa saya harus ga temenan sama siapa2 yang merokok? ga tau juga deh… sampe sekarang masih ga ada solusi. karena biar dah pada saya kasih tau soal kondisi paru2 saya juga mereka pada ngajak nongkrong nya di smoking area huhuhuh…

    1. waduh.. paru2nya udah rusak padahal ga ngerokok?? sorry to hear that.. 😦 semoga ga tambah parah ya, may…
      mungkin emang lebih baik ga temenan sama mereka. kalo udah dikasih tau kondisi paru2 kamu tapi mrk ga peduli tetep ngerokok di deket2 kamu, ya sorry to say mungkin mrk emang bukan temen yg baik, ga mau ngertiin keadaan teman. jadi buat apa tetep dijadikan teman? emang sih kadang susah yaa,,, keadaan bikin jadi serba salah, pada akhirnya non smoker lah yg (selalu) ngalah. tp kalo mereka dikatain egois, mrk marah. halah >_<

  3. saya bekerja ditempat yang penuh asap rokok, rasanya mau menangis tiap hari harus menghirup udara yg kotor…tiap hari hrs ngerasain sesak dan sakit kepala ditambah pakaian dan rambut jadi bau…

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s