Tuh kan Jadi Pada Ribut -_-“

Ketika saya lihat info film “Cinta Tapi Beda” mau dirilis, saya udah tebak ini pasti bakal jadi kontroversi. Dilihat dari penokohannya aja sudah tercium bau-bau akan menimbulkan keributan. Dan ternyata benar saja, film itu akhirnya menuai protes, disinyalir menghina Minangkabau dan Islam. Saya sih belum nonton dan nggak minat nonton, jadi nggak bisa kasih penilaian seperti itu.

Pendapat saya, secara keseluruhan film itu nggak dimaksudkan untuk menghina adat/suku/agama tertentu. Kalau dilihat dari ide dasar pembuatan film yang diangkat dari sebuah blog ini, nggak ada yang salah dengan ceritanya. Banyak pasangan yang mengalaminya, dari suku manapun dan agama apapun. Beberapa teman saya juga mengalaminya sendiri, tidak hanya Islam-Kristen, tapi ada juga yang Hindu-Kristen, Katolik-Protestan, dll. Beberapa di antara mereka pada akhirnya menyerah dengan kondisi orang tua nggak setuju (karena sebagian besar orang tua punya keinginan anaknya menikah dengan orang yang seiman, apapun agamanya) dan salah satu dari mereka nggak ada yang mau pindah agama, sehingga putus. Tapi ada juga yang bisa berkompromi dengan jalan pindah agama, atau melangsungkan pernikahan beda agama dan mereka bisa hidup rukun dengan orang tuanya. Saya nggak akan menilai hal itu benar atau salah, karena itu sudah urusan pribadi masing-masing. Tapi yang jelas, kita menghargai toleransi, kerukunan dalam perbedaan, bukan? Nggak ada alasan untuk memprotes hal itu, yes?

Nah kisah ini diangkat, selain untuk hiburan yang bisa bikin galau bagi siapapun yang (pernah) mengalaminya, juga untuk mengambil hikmah dan pelajaran bagaimana cara menyikapi kalau kita atau sodara kita ada yang mengalami seperti di film itu. Intinya begitu, kan? Lalu apa masalahnya?

Masalah SARA adalah masalah yang sensitif. Kita nggak senang bila ada yang mengangkat isu SARA, menjelekkan seseorang dengan mengatakan orang itu dari suku/ras/agama tertentu. Soal cinta beda agama ini banyak terjadi di masyarakat, lengkap dengan tanggapan positif dan negatif, baik dari keluarga atau pun orang luar. Satu keluarga aja bisa beda pendapat, apalagi masyarakat yang berasal dari latar belakang dan punya sudut pandang yang berbeda. Bukan berarti isu SARA nggak boleh dibicarakan atau diangkat menjadi film, tapi mustinya dicari cara bagaimana mengemas isu SARA yang sensitif ini menjadi hal yang positif dan disukai banyak orang, ketimbang membuatnya jadi kontroversi.

Saya nggak akan menilai mana yang paling benar atau salah; yang memprotes film atau si pembuat film. Saya rasa pada dasarnya nggak ada yang mau ribut, nggak ada yang mau menghina, dan nggak ada yang mau merasa terhina. Saya juga nggak akan mengatakan siapa yang punya pandangan sempit atau luas, apalagi membandingkan satu agama dengan agama yang lain. Saya mau bilang, bagi saya film ini kurang sensitif untuk masalah se-sensitif ini.

Tokoh gadis Padang yang beragama Katolik itu saya pikir terlalu mengada-ada. Memang, ada beberapa orang Padang yang non-Islam, tapi mayoritas kan Islam. Kalau memang pada kenyataan hasil risetnya adalah orang Padang lebih banyak yang Islam, yaudahlah tokohnya dibikin Islam aja. Kan bisa dibalik, yang Padang beragama Islam, yang Jawa beragama Kristen (karena lebih banyak Jawa-Kristen ketimbang Padang-Kristen kan?). Atau bisa juga sekalian ambil dari suku yang mayoritas Kristen; Batak misalnya. Kalau begitu, saya rasa nggak akan ada yang protes, yanggak? Kita nggak tahu apa maksud si pembuat film ini apa dengan penokohan yang kalo boleh dibilang kurang lazim ini, kurang riset atau sengaja mau angkat minoritas dengan alasan tertentu? Kita nggak usah bilang alasannya adalah penghinaan, deh. Terlalu menghakimi. Tapi memang, sebaiknya pembuat film lebih peka membaca situasi, hindari hal-hal yang bisa menimbulkan konflik.

Soal berlebihannya, saya nggak lihat langsung sih, itu cuma perasaan saya aja; tipikal sinetron. Tapi kalo baca dari review ini, saya pikir memang benar film ini terlalu berlebihan, terutama di adegan-adegan tertentu. Mestinya, selain menghindari konflik, pembuat film juga memikirkan apa efek yang bisa terjadi bagi penonton setelah menonton filmnya. Saya jelas nggak suka kalo ada adegan marah-marah ke orang tua, bagaimana coba kalo ditonton oleh seseorang yang salah mencerna maksud dari adegan itu lalu kemudian ditiru dan dipraktekkan di rumahnya; dia menghardik orang tuanya? Soal pertentangan orang tua kan bisa dibuat lebih bijaksana, diskusi baik-baik meski tetap tegas, misalnya.

Apalagi soal mengundang pacar ke rumah dan disuguhi makanan yang bagi agama si pacar itu dilarang, nilai apa yang ingin disampaikan? Bahwa keluarga Kristen nggak toleransi terhadap perintah agama si pacar yang melarang makan makanan itu, atau si pacar yang Islam yang nggak toleransi karena nggak menghargai makanan yang sudah disuguhkan dengan nggak memakannya atas dasar larangan agamanya? Malah jadi rancu kan? Malah jadi konflik. Kenapa nggak dibikin keluarga Kristen memasak makanan biasa sehingga si pacar yang Islam bisa makan apapun yang disuguhkan? Lebih damai kan kelihatannya? Lebay deh. Di kehidupan nyata banyak kok teman atau pacar beda agama yang keluarganya lebih punya toleransi kepada satu sama lain, nggak seperti yang digambarkan di film itu.

Jadi sempat bertanya-tanya, apa maksud si pembuat film dengan filmnya ini? Mau dibilang toleran dan idealis? Tapi kebablasan dan mengada-ada. Mau dibilang berani menyampaikan perbedaan? Tapi ga sensitif dan malah bikin perpecahan. Atau memang sengaja bikin sesuatu yang kontroversi supaya jadi sensasi? Supaya filmnya banyak dibicarakan sehingga laku di pasaran? Sempat terpikir nggak apa efeknya ke depan? Sekarang ribut2nya bukan yang beda agama aja, tapi yang satu suku pun juga jadi pada ribut. Sebagian orang Minang protes karena merasa terhina, sebagian lagi nggak merasa terhina tapi justru menilai kelompok yang protes itu berpikiran sempit. Waduh, kok malah jadi “perang saudara” sih? -_-” Jadi inget waktu film “?” dirilis, juga menuai kontroversi dan perpecahan semacam ini. Kok ya terulang lagi sih… -__-”

Saya jadi mau tanya, ada nggak sih yang udah nonton film ini dan bilang kalo filmnya bagus, di luar segala kontroversinya? Ada nggak yang penasaran mau nonton film ini karena film ini bagus, bukan penasaran karena film ini ramai dibicarakan orang dan mungkin sebentar lagi akan ditarik dari pasaran?

Bagi yang sedang ribut2, sudahlah, berhenti ribut-ributnya. Protes sudah dilayangkan, uneg-uneg sudah dikeluarkan, jangan lagi diperpanjang. Anggap aja ini film cuma cari sensasi. Jangan sampe kita terpecah belah cuma gara-gara sebuah film. Udah, ya, damai… Peace, bro 😉

Advertisements

4 thoughts on “Tuh kan Jadi Pada Ribut -_-“

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s