CHOP OFF THEIR RAPING TOOLS

rape-protest22

Kasus perkosaan terhadap seorang mahasiswi di New Delhi, India, yang dilakukan oleh sekelompok orang di dalam bus, membuat kita teringat akan beberapa kasus perkosaan yang terjadi di dalam angkot di Jakarta. Bukan cuma kasus serupa, tapi juga kasus perkosaan lainnya, baik yang dilakukan oleh 1 orang atau beramai-ramai. Membayangkan situasinya yang pasti mengerikan, menjijikkan, dan menyakitkan, ingin rasanya langsung menembak mati para pemerkosa itu sebelum mereka melakukan aksinya. Saya membayangkan ada sniper yang selalu berjaga di setiap sudut tempat, memergoki orang yang mulai melakukan aksi kejahatan seksual, lalu langsung tembak mati orang itu hingga korbannya bisa selamat. Cara yang efektif untuk membersihkan sampah-sampah masyarakat.

Tapi sayangnya, lebih banyak korban yang tidak selamat oleh para begundal itu. Mereka bukan hanya merampas masa depan korbannya, tapi juga memukuli dan bahkan tak jarang mereka juga membunuhnya. Lalu mereka melenggang puas setelahnya. Kalau nasib sial, mereka tertangkap dan dihukum untuk beberapa waktu, kemudian bebas, dan bisa melakukan hal itu lagi. Kalau mereka beruntung, mereka nggak akan tertangkap dan bebas berkeliaran dan mencari mangsa lain. Sementara korbannya masih akan terus menderita seumur hidup.

Peristiwa New Delhi itu menuai protes keras, karena kasus perkosaan sudah sering terjadi di India dan mereka tidak ingin lagi ada korban. Namun sepertinya pemerintah selama ini tidak menghukum para pelaku dengan setimpal, seperti tidak ada efek jera, juga tidak ada efek ‘memberi contoh’. Masalah ini bukan cuma ada di India, tapi juga di negara lain, termasuk di Indonesia. Hukuman untuk para pemerkosa dianggap (dan memang masih) terlalu ringan. Kita ingin para pemerkosa dihukum mati. Selain karena korban akhirnya meninggal dunia karena luka dalam yang serius (RIP – red), juga untuk memberi efek jera dan memberi contoh pada para penjahat kelamin lain untuk tidak melakukan aksinya itu.

Tapi apakah hukuman mati adalah solusi yang paling tepat?

Setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya hukuman mati pun masih terlalu ringan untuk mereka. Enak saja mereka dibuat mati sementara korban masih harus hidup menanggung malu, sedih, dan sakit. Tidak ada efek jera karena toh mereka sudah mati. Orang mati memang tidak akan bisa mengulang perbuatan mereka lagi. Lalu di mana efek jeranya? di mana hukuman beratnya? di mana efek memberi peringatan bagi penjahat kelamin lain?

Saya setuju dengan poster yang dibawa oleh para demonstran di atas; CHOP OFF THEIR RAPING TOOL! Saya tambahin “s” karena selain bentuk jamak *sotoy*, ‘alat’ yang dipakai kan bukan cuma sekedar alat kelamin aja, tapi juga tangan dan mungkin anggota tubuh lainnya. Jadi potong alat kelamin dan anggota tubuh mereka yang dipakai untuk memperkosa (kalo bisa iris tipis2 trus dikasih jeruk nipis)!

Mereka telah membuat korbannya menderita, mereka juga harus dibuat menderita. Biar kapok. Biar jera. Supaya ga bisa (dan gak akan bisa) mengulang lagi perbuatan mereka. Supaya mereka merasakan penderitaan seumur hidup seperti korbannya. Supaya memberi peringatan untuk para penjahat kelamin lain; kalo mrk memperkosa, mereka akan mengalami hal yang sama. Hingga akhirnya gak ada lagi pemerkosa, karena ga ada yang mau dipotong pen*snya. Persetan dengan HAM, mereka sendiri telah melanggar HAM. Mata dibayar mata. Kehancuran masa depan dibalas dengan kehancuran masa depan. Kerusakan alat kelamin harus dibayar dengan kerusakan alat kelamin juga. Adil.

rapistPigSatu lagi tambahan, seperti di film “The Girl with the Dragon Tattoo”, para pemerkosa itu juga harus ditato dengan huruf besar-besar bertuliskan; I AM A RAPIST PIG. Kalo perlu tatonya jangan diperut, karena bisa ditutupi dengan baju, tapi ditulis di jidat. Cap permanen yang bisa dilihat jelas oleh orang-orang. Seperti mereka telah menorehkan cap permanen kepada para korban sebagai korban perkosaan. Itu baru namanya adil. Itu baru namanya memberi hukuman berat. Itu pun sebenarnya masih nggak setimpal dibanding penderitaan korban, tapi saya rasa cukup lumayan untuk membuat kapok para pemerkosa dan penjahat kelamin yang punya niat memperkosa.

So what is the proper punishment for rapists??

Write a tattoo on their forehead with big big letters: I AM A RAPIST PIG and then cut their pen*s off. Chop off their raping tools. Let them live with that instead of quick death.

How about that?

Semoga keadilan segera ditegakkan. Jangan sampai ada lagi korban, di belahan bumi manapun.

Aamiin…

image taken from here and here.

Advertisements

3 thoughts on “CHOP OFF THEIR RAPING TOOLS

  1. nah, tadi tu mau komen soal topik ini, tp kayanya akan kepanjangan kl di twitter. 🙂

    sempet baca sebelum adanya kasus terakhir di India ini, lupa dimana, artikelnya cukup panjang tp kira2 begini: kasusnya sedikit beda di India, terutama India bagian utara. disana perkosaan geng biasa terjadi, dan parahnya masyarakatnya acuh saja. korbannya macam-macam, dari anak smp masih ranum sampai sudah istri rumah tangga sudah punya anak pun disikat beramai-ramai. modusnya selalu sindikat, geng. ngga jarang korban sampai disekap dan digilir berhari-hari.

    pelakunya juga santai saja hidup di tengah masyarakat. kadang sudah bisik-bisik tahu, ini gerombolan si A pelakunya. tapi mau ditindak sulit, soalnya gerombolan A punya bos yang kerabatnya anggota parlemen (mirip kisah perkosaan tahun 80-an di Jakarta dulu yg ngga tuntas itu), atau ternyata punya hubungan sama tuan tanah. ada juga yang dilindungi pemuka agama. polisi? yah, daripada daripada…

    kasus terakhir yang korbannya wafat di Singapura itu adalah eskalasi dari kasus2 yang ngga tuntas sebelumnya yg tentunya ngga ada tindak lanjut, apalagi keadilan. korban juga cuma bisa pasrah dan diam.ini yg perlu dicatat, korban terakhir ini melawan. dia menggigit dan memukul pelakunya sekuat yang dia bisa, lantas jadi cedera berat karena dihantam balik. coba kalo ngga melawan, sampai sekarang India bakal cuek saja dengan kasus perkosaan geng.

    soal hukuman, chemical castration yg disebut di artikel itu bisa jadi solusi kok. jadi pelaku akan diinjeksi zat kimia yg bikin libido mereka turun atau bahkan hilang sama sekali. biasanya sih abis itu dampaknya stress, trus bunuh diri. kayak Alan Turing yg dichemical castration gara2 gay, waktu di Inggris masih melarang gay tahun 50-an.

    • haha yoii.. kalo di twitter, musti berapa episode, males ah. makanya nulis di sini aja 😛

      iya tuh gilak di India, banyak bener kasus perkosaan dan keknya dibiarin aja. pdhl bbrp bulan sblm kasus ini ada juga kasus yg agak rame di berita, tapi ga ada kelanjutannya. kalo yg sekarang ini emang keknya yg paling sadis, sampe meninggal pula.

      hukuman chemical castration itu bisa juga sih, biar mrk mati pelan2 krn depresi. tapi tetep kurang sadis, an. mksd gw, yg mrk udah ambil dari korban mrk tuh banyak banget, semuanya malah, bukan cuma libido doang. nah, hukuman yg pantas adalah ambil yg banyak juga dari mrk. apa aja? ya tools yg mrk pake buat melakukan perkosaan itu. yg pasti alat kelamin, termasuk jg tangan yg pasti ngegrepe2 dan mulut yg nyium2 paksa. hiiyy.. jijik! potong itu semua, trs baru deh kasih chemical castration. agony bayar agony. depresi bayar depresi.

  2. Pingback: Chop off Their Raping Tool 2 | sigota

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s