Balada Anak Kost

Hmm.. “anak”? Masih pantes ga ya disebut “anak kos”? hehehe… abaikan 😛

Sejak pindah kerja, saya jadi anak kos di daerah Margonda, Depok. Pastinya tinggal jauh dari rumah sendiri dan berada satu atap bersama dengan orang-orang baru yang nyaris ga ada yang kenal, adalah pengalaman tersendiri yang penuh suka duka. Oke, saya agak berlebihan dengan kata “suka-duka” itu 😛 Sebenernya biasa aja sih, cuma agak beda aja sedikit, saya jadi lebih punya privasi dan lingkungan baru 😀

Dari saya pribadi, nggak ada masalah dengan gaya hidup baru saya yang sekarang. Dari dulu saya belum pernah ngekos, karena rumah berada di pusat Jakarta, tempat beraktivitas dekat, ga ada alasan untuk ngekos. Jadi ketika akhirnya kerja di Depok, dengan suka cita saya mencari tempat kos. Iya, Depok – Jakarta itu deket banget. Apalagi kalo naik CommuterLine, saya bisa turun di Tanah Abang, Gondangdia, atau Gambir. Masih lebih dekat daripada harus ke Jakarta Kota atau Bekasi. Sebenernya bisa aja nggak ngekos. Tapi saya kepingin ngekos *keukeuh*

Soal makan, jangan ditanya. Margonda adalah surga makanan. Tinggal pilih mau makan di mana, jalan sebentar, bisa makan enak. Mau yang murah sampai mahal, ada. Mau yang di pinggir jalan sampe di mall, ada. Kalau malas jalan, tinggal telepon pesan antar. Soal hiburan, meski kota kecil, bagi saya Depok punya hiburan yang lumayan lengkap. Asal ada bioskop, tempat karaoke, dan bilyar, udah cukup bagi saya. Tapi yang paling menyenangkan adalah udaranya. Depok masih punya udara segar. Langitnya masih luas, masih bisa melihat bintang-bintang. Malah di malam-malam tertentu, bulan terlihat jelas dari pintu kamar saya.

Soal tempat kosnya juga ga ada masalah. Kebersihan tempat ini sangat dijaga. Pemilik kos sangat peduli dengan fasilitas-fasilitas untuk para penghuni. Mba yang jaga pun baik banget.

Tapi bukan berarti ga ada masalah di sini. Masalah kecil sih, biasalah, masalah bertetangga. Kadang ada yang lupa kalau mereka tinggal ga sendiri, tapi ada penghuni lain di sekitarnya, jadi menyalakan musik dengan volume tinggi. Ada juga yang suka buang sampah di tempat saya. Mungkin sambil lewat, atau karena dia ga punya tempat sampah. Ketika akhirnya punya tempat sampah, ditaronya di dekat tempat sampah saya sampai nempel dan sampahnya jatoh ke tempat sampah saya. Ketahuan begitu karena saya merasa belom nyampah di situ. Ada-ada aja ya?

Satu masalah yang cukup mengganggu bagi saya adalah alarm di pagi buta. Saya ga masalah dengan bunyi alarm di jam berapapun dengan nada atau musik apapun. Tapi kalau setiap pagi, alarm itu terus-terusan bunyi sampai hampir 1 jam, rasanya kepingin bawa kapak ke kamar sebelah dan hancurkan alarmnya. GRRR!! Tapi ya mau gimana lagi.. akhirnya cuma bisa pasang earphone dan dengar musik sendiri dengan volume tinggi. Hhh… padahal kan saya kepingin menikmati kesunyian pagi…

Advertisements

2 thoughts on “Balada Anak Kost

  1. Selamat menikmati kehidupan (anak) kost, jangan kesel soal alarm… soalnya kedepannya nanti akan banyak hal lain yang lebih mengesalkan lagi dari para tetangga itu, simpan tenaga 😀

    1. wahahaha.. iya, mas bayuu… itu belom semuanya saya tulis. rencananya nanti ada kategori “balada (anak) kos” sendiri khusus utk cerita ttg kos2an 😀

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s