Banci Terselubung

Sore tadi di KRL Commuter jurusan Depok, penumpang cukup ramai. Seorang ibu menggendong anaknya masuk ke gerbong, celingukan mencari tempat duduk yang tersisa. Tapi nihil, gerbong penuh, orang yang berdiri pun banyak.

Ibu itu berdiri di seberang saya. Tepat di depannya, duduk seorang lelaki sibuk (atau pura-pura sibuk) dengan hpnya. Di sebelah lelaki itu, duduk seorang lelaki yang lebih muda dari lelaki pertama, memakai topi, menunduk dalam, mungkin tidur (atau pura-pura tidur). Di sebelahnya lagi, ada lelaki yang lebih terlihat makmur, bersedekap dan memejamkan mata (atau pura-pura memejamkan mata). Tidak ada yang bergeming dari tempat duduknya. Tidak juga bapak-bapak lain yang duduk di bangku lain yang masih dekat dengan ibu itu.

Saya tunggu beberapa saat, tidak ada yang bangun memberi tempat duduk untuk ibu itu, akhirnya saya bangun dan memanggil si ibu. Kebetulan saya sudah merasa kurang nyaman duduk menghadap banyak orang yang berdiri di depan saya. Jadi saya lebih memilih untuk berdiri saja dan memberikan tempat duduk saya ke ibu itu.

Saya sengaja berdiri di tempat ibu tadi berdiri, ingin tahu reaksi banci-banci yang duduk di sana. Lelaki pertama masih sibuk dengan hp-nya, lelaki kedua masih menundukkan kepala, lelaki ketiga terbangun dan clangak clinguk melihat ke luar jendela. HAH! Oh ya, ada lelaki keempat, tapi sudah agak tua, kurus, dan terlihat lelah. Jadi saya maklumi jika beliau tidak ingin memberi bangkunya pada ibu tadi. Sementara ketiga lelaki yang di depan saya masih muda dan terlihat segar bugar. Ini lah mereka.

Dalam hati saya merutuk: “Besok kalian pada implant payudara & vagina, ya?!!”

Bukan, bukan karena saya jadi berdiri dan mereka tetap duduk. Saya merutuk karena mereka tidak peduli pada ibu tadi, yang menggendong anaknya, sementara mereka adalah lelaki. Dari fisik saja terlihat mereka lebih kuat dari ibu tadi. Apa mereka tidak ingat  ibu mereka, istri mereka, anak mereka? Bagaimana kalau ibu atau istri dan anak mereka mengalami hal seperti itu?

Hebatnya, ketika kondektur datang, mereka dengan sigap mengeluarkan karcis mereka. Dan di salah satu stasiun, lelaki pertama sigap turun. Saya pikir, “Jaelah, tinggal 2-3 stasiun doang elu ga mau kasih duduk buat ibu-ibu?? Besok pake rok ya, jeung!”

Seketika lelaki kedua yang dari tadi tidur (atau pura-pura tidur) bangun dan memanggil lelaki tua di sebelah lelaki ketiga, dan menyuruhnya duduk di sebelahnya. Dua stasiun berikutnya, lelaki ketiga pun turun dengan tak kalah sigap.

Tepuk tangan untuk mereka. Bravo atas akting mereka tidur nyenyak ketika ada ibu-ibu gendong anak dan bisa langsung bangun begitu ada kondektur atau telah sampai stasiun yang dituju. Hebat! Lelaki-lelaki Indonesia sungguh gentleman dan perkasa.

Selamat, bapak-bapak, anda telah menjadi banci terselubung.

Advertisements

2 thoughts on “Banci Terselubung

  1. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan butir nilai Pancasila perlu digalakkan kembali, sehingga Eka Prasetya Panca Karsa tercermin dalam laku tindak keseharian kita.

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s