Belahan Jiwa

“Wahai belahan jiwa, di manapun kamu berada. Aku sangat berharap kita bisa bertemu dan mengakhiri pencarian kita. Tapi sepertinya kita belum diizinkan bertemu di dunia ini. Sampai jumpa di sana…” gumamku dalam hati, seiring napasku yang melambat. Mataku amat berat untuk kubuka demi melihat satu persatu anggota keluarga yang hadir. Aku bisa mendengar isak tangis mereka di antara bunyi mesin yang konstan. Mataku semakin berat ketika kulihat sesosok berjubah hitam menghampiri dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Kemudian semua menjadi gelap.
“Wahai belahan jiwa, akhirnya kamu datang juga. Sudah lama aku menantimu di sini…” terdengar suara di kegelapan.
“Siapa?” aku bertanya, tapi aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri.
“Aku belahan jiwamu. Dulu aku juga berharap kita bisa bertemu dan mengakhiri pencarian kita, tapi kita memang belum diizinkan bertemu di dunia. Aku meninggalkanmu terlebih dahulu. Maaf. Tapi yang penting sekarang waktumu telah tiba dan akhirnya kita bertemu. Kita memang berjodoh dan semua sudah diatur. Kau tahu… kita meninggal di ruangan yang sama dan di tempat tidur yang sama.”
Advertisements

7 thoughts on “Belahan Jiwa

  1. @omhanif: permintaannya langsung terkabul begitu menghembuskan napas terakhir, om :)@gretan: hehehe… bukan hobi, tapi bawaan lahir 😛 ada pesan moralnya, bo… ya kalo pas idup kita blm dapet jodoh, sapa tau sebenernya jodoh kita udah meninggal dan lagi nunggu kita di alam sana 🙂

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s