Ada

“Aku sudah pindah kantor. Gedung baru, kubikel baru, suasana baru. Semoga dengan begitu aku bisa melupakanmu. Di kubikel yang lama aku selalu menoleh ke belakang dan mengira kamu ada di sana, di tempat biasa kamu duduk menungguku menyelesaikan pekerjaan meski sampai malam tiba sambil bermain PSP atau berinternet-ria dengan HP-mu, atau sesekali membantu pekerjaanku agar cepat selesai dan kita bisa segera pulang bersama. Aku tidak tahan, seperti selalu melihatmu di situ, padahal bangku itu kosong. Oleh sebab itu aku pindah kantor, berharap bisa melupakan sudut kubikel itu. Aku juga telah membersihkan contact list-ku, menghapus nama-nama orang yang sudah hilang contact, termasuk namamu. Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya aku bisa menghapus alamat emailmu dari contact list-ku. Ini email terakhirku. Maafkan aku.. terpaksa menghapusmu. Agar aku bisa melanjutkan hidupku. Semoga kamu baik-baik saja di sana….”


Klik. Dia menekan tombol “send” sambil menghela nafas. Meski aku melihatnya dari belakang, aku tahu dia menitikkan air mata. Sebuah email notifikasi langsung masuk ke dalam inbox-nya. Dari pengirim dan subject-nya dia langsung tahu bahwa emailnya barusan dia kirim, dipentalkan kembali kepadanya. Alamat email yang dia kirim sudah tidak terdaftar lagi. Alamat emailku.

Dulu kami bersahabat. Kami mempunyai kekasih hati masing-masing di tempat yang jauh. Suatu hari dia bercerita hubungannya berakhir. Aku tahu dia orang yang tidak tahan dengan hubungan jarak jauh. Aku juga tahu dia kecewa ketika dia menanyakan bagaimana hubunganku dengan kekasihku dan kujawab baik-baik saja.

Aku bisa merasakan dia mencintaiku dan semakin hari cintanya padaku semakin tumbuh. Bukan salahnya dia memiliki perasaan seperti itu, karena perlakuanku padanya juga sudah lebih dari sekedar sahabat. Hampir setiap hari aku menjemputnya, menungguinya dengan sabar di kantornya ketika dia harus lembur, sampai-sampai dia menyuruhku menunggu di kubikelnya, bukan di lobi. Sering menghabiskan waktu dengannya di akhir pekan dan sering meneleponnya selama berjam-jam.

Aku juga mencintainya. Tapi aku sudah terikat dengan kekasihku. Kami akan segera menikah. Aku tahu hatinya pecah berkeping-keping ketika aku bilang padanya aku akan menikah, tapi dia memberikan senyuman yang paling lebar dan manis padaku. Dia tidak datang ke pesta pernikahanku.

Tapi dia datang ke pemakamanku, tiga bulan kemudian. Typhus, lever, dan demam berdarah, tiga penyakit yang menyerangku secara bersamaan membuatku dirawat selama beberapa hari. Dan suatu hari aku tidak pernah bangun lagi.

Dia datang ke makamku, memandang nisanku lama sambil memeluk bahu istriku. Dia tidak menangis. Namun malam harinya dia menulis email panjang lebar dan dialamatkan kepadaku. Tentang perasaannya. Tentang kekecewaannya. Tentang apa pun. Aku tidak mengerti, ketika istriku dengan mudah mendapatkan penggantiku dan menikah kembali, dia justru masih saja menulis kepadaku dan bahkan membuat buku yang ditulisnya didedikasikan untukku.

Aku menyesal mengecewakannya. Aku menyesal tidak memilihnya. Aku memutuskan untuk selalu menjaganya. Aku selalu duduk di bangku tempat biasa aku duduk dulu, di kubikelnya. Saat malam tiba, dia merasakan kehadiranku, dan menoleh ke bangku tempatku duduk. Dia mengirimku email, karena tahu aku di belakangnya, membaca tulisannya. Bahkan ketika emailnya mulai dipentalkan lagi ke alamat emailnya, dia tetap mengirimiku email.

Kini, di tahun ketiga, dia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya. Dia pindah ke kantor baru. Dan berharap dengan kubikelnya yang baru, dia tidak akan melihatku lagi. Tapi dia salah. Bukan kubikel lama yang membuatnya merasakan kehadiranku. Tapi aku memang selalu ada di dekatnya. Di belakangnya. Di mana pun dia berada. Membayar penyesalanku.

Advertisements

5 thoughts on “Ada

  1. this reminds me of my late fiancée .. I didn’t send him emails .. just some plurk’s mentioning his name, or a private blog, a letter for him. keep writing .. it heals ..

  2. @joan: yea.. That such things i did too.. blogs, short stories, anything. somehow it sounds crazy but it keeps me insane & creative as well :)@gretan: 🙂 thanks@mba rinita: hehe.. let’s say.. 2/3 fiksi 1/3 curcol :p

  3. greyskymorning said: @joan: yea.. That such things i did too.. blogs, short stories, anything. somehow it sounds crazy but it keeps me insane & creative as well 🙂

    true … so true …. gue baru tahu bahwa menulis itu ternyata sebuah terapi penyembuhan. so … write!!!

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s