emosi jiwa

Dulu saya adalah orang yang temperamen tinggi. Gampang tersinggung, cepat marah, kalau nggak suka langsung menunjukkan ketidak sukaan, dan – yang paling parah – ringan tangan. Jika ada seseorang yang berbuat sesuatu yang saya anggap ‘nggak pantas’, tinju saya langsung melayang ke bagian perut atau punggungnya. Saya bahkan pernah berkelahi dengan beberapa teman lelaki hanya gara-gara hal sepele namun pada saat itu saya nggak bisa menerima perlakuannya. Dulu saya sampai dijuluki ‘preman’ karena saking galaknya 😛

Tapi jika yang membuat marah saya itu teman perempuan, saya nggak bisa apa2. Adu bacot, saya nggak bisa. Paling-paling saya cuma bisa melihat wajahnya dengan tatapan marah dan tangan terkepal, gatal rasanya mau ngegampar. Pernah salah seorang teman sampai menarik saya dari ‘kancah pertempuran’ melihat gelagat saya yang sudah ‘red alert’. Saya nggak ingat lagi kejadian detilnya, tapi waktu itu saya dimarahi seorang teman perempuan gara-gara suatu hal yang saya nggak tau. Saat itu banyak orang karena kami sedang merayakan ulang tahun seorang teman di sebuah restoran makanan cepat saji, satu lantai disewa oleh anak yang berulang tahun itu. Ketika saya baru tiba di sana, seseorang menghampiri dan memarahi saya. Saya kaget dan benar2 nggak tau apa yang dia omongin. Lupa tentang apa, yang pasti saya merasa kepala saya langsung mendidih dan tangan sudah terkepal. Tiba-tiba sahabat saya sengaja lewat di depan saya dan menarik tangan saya menjauh dari situ. Dia bilang, “kalo elo pukul dia, orang2 ngeliat elo yang salah, karena mukul duluan.”
“Tapi kan orang2 tau dia duluan yang ngelabrak gw.”
“Tetep aja elo salah kalo elo mukul duluan. Apalagi mukul cewe.”
Oleh sahabat itu saya ‘diterapi’ supaya saya nggak gampang marah apalagi main hajar. Entah sejak kapan mulainya, lama kelamaan saya makin bisa mengendalikan amarah saya dan mulai jadi orang yang lebih sabar. Sesekali temperamen tinggi masih suka kumat, tapi itu jarang terjadi. Bertahun-tahun kemudian baru saya memukul orang lagi karena suatu hal yang saya anggap keterlaluan. Tapi semakin ke sini, saya semakin bisa mengendalikan diri. Sekarang malahan kalau saya marah saya lebih memilih diam. Mendiamkan orang itu tepatnya. Kalau pun saya tidak tahan menahan emosi, saya curahkan ke dalam tulisan. Dan semakin lama, tulisan2 saya yang bernada emosi tinggi juga sudah jarang penampakannya 😛
Beberapa waktu yang lalu seorang teman berkomentar, “sekarang elo keliatan lebih tenang deh, ta…” Hehe… Ya bagus lah kalau saya sekarang terlihat lebih tenang. Berarti setan di dalam diri saya sudah bisa saya kendalikan dan sedang tidur pulas ^_^
Tapi baru-baru ini ada yang mengusik saya dan setan itu akhirnya terbangun. Dua hari ini saya begitu emosi, meski masih bisa saya tahan, tapi saya nggak bisa menahannya lewat tulisan. Mungkin karena sudah lama ditahan dan terakumulasi, hingga akhirnya keluar juga kemarahan saya. Itu pun sebenarnya saya marah bukan untuk saya saja, tapi untuk sahabat saya juga.
Kejadian itu sebenarnya antara sahabat saya dan si perusuh ini, tapi kebetulan ada saya yang melihat kejadian itu sebagai saksi. Sebelumnya ada hal-hal yang terjadi antara kami bertiga, namun saya dan sahabat menahan diri untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut karena masih memandang dia sebagai pacar dari teman dekat kami. Jika saya mau lepas kendali, kejadian buruk mungkin sudah terjadi dari dulu. Tapi saya maupun sahabat, tidak mau ambil pusing memikirkannya apalagi meributkannya.
Namun beberapa hari yang lalu si pacar teman dekat ini sudah keterlaluan. Sahabat saya sudah nggak tahan dan memberinya shock therapy. Alhasil dia benar-benar shock. Kami pikir dia akan kapok dan berubah menjadi lebih baik. Tapi dia malah marah pada kami dan menceritakan hal itu ke teman-temannya dan membuat mereka membela dia dan memusuhi sahabat saya. Saya marah karena kami lah yang seharusnya lebih berhak marah karena dia duluan yang memulai masalah. Saya marah karena dia hanya bercerita bagian yang seakan dia dizolimi oleh kami dan tidak menceritakan seluruh kejadiannya. Saya marah karena teman saya awalnya menerima alasan kenapa kami melakukan itu kepada pacarnya, namun kemudian dia cerita kepada orang lain dan menyalahkan sahabat saya atas ‘shock therapy’-nya. Saya marah karena teman saya itu seharusnya lebih mengenal sifat kami yang sudah berteman bertahun2 dibanding pacarnya yang baru ia kenal beberapa bulan belakangan. Saya marah karena mereka lupa bahwa kami lah yang membuat mereka dekat dan jadi pacaran.
Fyuhhh…
Sudahlah. Biarkan saja. Cukup tau deh. No more ms. nice girls for both of u. Nggak, kami ga akan bersikap bitchy atau memusuhi kalian. Biasa aja. Tapi kami akan jaga jarak dan jaga sikap. Cukup taulah!
Advertisements

12 thoughts on “emosi jiwa

  1. indahsusanti said: santai aja bro .. eh salah, santai aja ta, biar mereka yang kek cacing kepanasan …

    huehuehue…elo orang ke sekian yg manggil gw ‘bro’ :Piya nih, udah santai.. hehehe.. *evil smirk*

  2. okeboo said: Ih kurang ajar tuh org2 kayak gitu. Cuekin aja Ta. *rock on Ita!*

    ga kurang ajar sih, cuma kurang gaul aja kali… mentang2 udah punya pacar, temen2nya dilupain.. :Dkasian sih sebenernya.. tapi udah susah ngebilanginnya. yaudahlah terserahhhhh…

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s