tentang rokok dan perokok

Membaca jurnalnya Ari tentang sikap perangnya terhadap perokok karena pengalaman pahitnya menghadapi teman2 perokok, saya jadi ingin ikutan membuat jurnal dengan tema yang sama menurut pengalaman dan opini saya.

Beberapa tahun yang lalu saya menjadi perokok non-regular, maksudnya saya merokok hanya di saat-saat tertentu seperti misalnya sedang kumpul bersama teman2 perokok, sedang stres oleh pekerjaan atau sedang bad mood. Saya menyebutnya dengan istilah occasionally & bete-cially smoker ๐Ÿ˜›

Awalnya sewaktu ketika saya dan beberapa teman sedang kumpul dan makan bareng, sesudah makan mereka – yang kebanyakan lelaki – mulai merokok. Saya pikir daripada saya menjadi perokok pasif karena menghirup asap rokok mereka, lebih baik saya juga ikutan merokok. Toh saya juga bukan orang yang sama sekali belum pernah merokok dan bebas asap rokok. Bapak, Engkong (sebutan utk kakek – Bahasa Betawi), dan paman-paman saya adalah perokok, membuat saya terbiasa dengan asap rokok.

Sebagai perokok non-regular saya hanya merokok 1-2 batang saja, itu pun tidak setiap hari. Tapi kalau sedang penat dengan pekerjaan, bisa hampir setiap hari saya ikut merokok di ruangan OB bersama teman-teman sekantor. Tapi begitu pekerjaan sudah selesai, kegiatan merokok saya pun berkurang. Rokok yang saya hisap kebanyakan hasil pemberian teman. Kadang-kadang saya beli sebungkus dan membagi-bagikannya ke mereka, sisanya saya simpan di laci untuk ‘jatah’ beberapa hari.

Sudah hampir 2 tahun belakangan ini saya tidak pernah lagi merokok, sama sekali. Alasan pertama adalah waktu itu saya sedang mengonsumsi obat yang ketentuannya selama minum obat tersebut saya tidak boleh merokok. Sementara obat itu saya konsumsi selama berbulan-bulan. Alasan kedua adalah waktu itu si pacar tidak merokok, jadi daripada diomelin lebih baik saya berhenti merokok. Bisa dibilang saya gampang sekali berhenti merokok, karena memang pada dasarnya saya bukan perokok.

Sekarang-sekarang ini saya malah jadi sensitif sekali dengan bau dan asap rokok. Jika ada yang merokok di dekat saya, hidung langsung terasa gatal dan tenggorokan terasa perih. Berbeda dengan Ari yang toleransinya sudah habis dan bisa menegur orang yang sedang merokok, bahkan dengan orang asing sekalipun, kalau saya memilih cara menyingkir dari tempat itu. Kalau saya berada di tempat yang membuat saya tidak bisa menyingkir, saya hanya mengibas-ngibaskan tangan dan akting batuk yang sedikit agak lebay supaya mereka sadar (hehe..) Kalau mereka tetap ndablek, ya paling saya menutup hidung rapat2. Saya tidak seberani Ari menegur perokok apalagi sampai main fisik ๐Ÿ˜›

Kalau pun saya berani menegur dan menyuruh seseorang membuang rokoknya, itu karena dia orang yg saya kenal, duduk di depan saya sambil menunggu makanan yang kami pesan datang atau ketika selesai makan ๐Ÿ˜€

Anyway, mengenai jurnal Ari yang saya link di atas, saya setuju sekali dengan tulisannya. Saya menghargai perokok yang punya toleransi tinggi dengan tidak merokok sembarangan, tau tempat merokok khusus yang tidak akan mengganggu orang lain (waktu saya merokok soalnya saya ga sembarangan lohh.. ^_^ ). Dan saya benci sama perokok yang merokok seenaknya, di dalam bis, di dalam angkot, di tempat umum lain yang seharusnya tidak dicemari oleh asap rokok mereka. Dalam angkot/bis yang pengap, panas, ditambah lagi asap rokok yang bau, bikin kepala jadi tambah pusing dan baju jadi bau asap. Belum lagi kalo di dalam angkot/bis itu ada anak kecil atau orang yg punya penyakit sinus, kan kasihan mereka terpaksa menghisap asap rokok selain polusi dan debu jalanan yg udah dalam tahap memprihatinkan. Kepingin rasanya menaruh aquarium bundar di kepala mereka supaya mereka hisap sendiri asap yang mereka hembuskan sampe semaput. Ergh!

Membahas soal rokok tidak akan pernah ada habisnya. Para perokok bilang adalah hak mereka merokok di mana aja. Yang tidak merokok bilang adalah hak mereka utk mendapatkan udara bersih, meski hal itu aga mustahil terutama di Jakarta ini. Tapi setidaknya, tidak ada asap bau yang keluar dari mulut orang lain itu sudah cukup. Jadi tolonglah, wahai para perokok… dunia kita sudah berbeda. Jangan ganggu kami dengan penampakan asap rokokmu atau bau-bau yang tak sedap itu. Tolonglah jangan merokok sembarangan di tempat umum, tapi di tempat yang sudah disediakan. Kalian boleh menghisap rokok dan tidak mempedulikan kesehatan kalian, tapi jangan merusak kesehatan orang lain dengan asap rokok kalian itu…

Advertisements

21 thoughts on “tentang rokok dan perokok

  1. oh God…this one could make me breathe “agak lega”di tengah kepulan asap rokok, yang bahkan jauh yang merokokpun, baunya bisa bermeter2*hugs itsy*i have no more tolerance, sorry…been a loooooong time

  2. huehueuhehehe… secara gw pernah jadi “one of them”, rimales aja negor2.. mending jauh2 aja deh kalo gw. hehehekalo elo kan emang udah ‘dirugikan’ secara fisik & materi… keknya emang perlu tindakan tegas spt itu. asal hati2 aja, takutnya mrk ga terima, nanti elo kenapa2…*hugs ari*

  3. Kalian boleh menghisap rokok dan tidak mempedulikan kesehatan kalian, tapi jangan merusak kesehatan orang lain dengan asap rokok kalian itu…=====================================================================setuju bangeet

  4. jadi inget waktu di Singapore .. setiap tempat umum, pasti ada tempat khusus perokok .. dan mereka teratur tuk ngerokok di sana .. ga di tempat lain .. termasuk sampah2nya .. *sigh*

  5. srisariningdiyah said: gue juga pernah tangan sampe merah biru gara2 hampir dilempar keluar angkot sama preman bertatto

    weksss.. ngeri amattt.. kalo beneran kelempar gimana?? adoohh… hati2 ah, sayy.. itu seisi angkot diem aja ga ada yg nolongin??

  6. gue perokok yang sangat tidak suka asap rokok. I can feel you..gue punya pengalaman.. begini..suatu siang gue makan di sushigroove, setiabudi building. gue selalu makan di area smoking. karena gue dan teman-teman pada ngerokok. sebelah gue ada 2 orang, saat gue ngerokok, dia melakukan tindakan frontal, yaitu ngibas2in tangannya karena terganggu asap rokok. lha, kenapa dia ada di area ini?kemudian gue mikir apa gue salah area yaa. tapi nggak kok. dan dia begituuuuu terus. abis itu gue mikir, sikapnya nyalahin gue. tapi gue ga merasa salah, karena dia ada di area yang sebaiknya dia ga disitu. itu menggangu gue. gue akan sadar salah dan terima sikapnya kalo gue merokok di area yg bebas asap. trus menurut lo, siapa yang salah? akhirnya sih gue ngalah. gue terganggu dengan sikapnya.no offense ya…

  7. greyskymorning said: menyingkir dari tempat itu. Kalau saya berada di tempat yang membuat saya tidak bisa menyingkir, saya hanya mengibas-ngibaskan tangan dan akting batuk yang sedikit agak lebay supaya mereka sadar (hehe..)

    cara yg sama yg paling sering gw lakukan jg… dan bete juga kalo mereka tetep aja dgn cueknya merokok…

  8. Udah ngga ngerokokkkkkk.. Thanks God.. after 20 tahun.. sekarang agak terganggu sama orang2 yang merokok tidak pada tempatnya!! Nothing against perokok, cuma please deh.. merokok pada tempatnya.

  9. ydiani said: setuju bangeet

    gw rasa banyak yg setuju, terutama yg bukan perokok atau mantan perokok.tapi perokok aktifnya sendiri keknya pada ga peduli. huhu… :Pyaa ga semua sih.. ada juga perokok yang ‘tau aturan’ ^_^

  10. blackishblue said: jadi inget waktu di Singapore .. setiap tempat umum, pasti ada tempat khusus perokok .. dan mereka teratur tuk ngerokok di sana .. ga di tempat lain .. termasuk sampah2nya .. *sigh*

    soalnya di sini uang pajak yg seharusnya sebagian dipakai buat bikin fasilitas seperti itu, masuk ke kantong pejabat2nya aja jo, ga sampe ke kas negara. alhasil negara ga bisa bikin fasilitas2 umum yang memadai. hoho…

  11. ibukomandan said: gue ga merasa salah, karena dia ada di area yang sebaiknya dia ga disitu.

    huehuehue… mungkin dia udah ga dapet tempat yg no smoking area kali, the, jadi dia terpaksa duduk di smoking area. ya tapi kalo emang dia ga tahan sama asap rokok, kenapa mau ditempatin di situ ya… ๐Ÿ˜•

  12. noem said: cara yg sama yg paling sering gw lakukan jg… dan bete juga kalo mereka tetep aja dgn cueknya merokok…

    hal itu yang bikin temen kita @ari akhirnya nekat negur :Dmungkin semua orang yg merasa terganggu dengan asap rokok harus punya nyali yg sama, biar yg merokok sembarangan itu pada nyadar…

  13. ritaardiansyah said: Udah ngga ngerokokkkkkk.. Thanks God.. after 20 tahun.. sekarang agak terganggu sama orang2 yang merokok tidak pada tempatnya!! Nothing against perokok, cuma please deh.. merokok pada tempatnya.

    hehe ya secara sekarang kamyu udah punya baby ya, booo… iyaahh aku pun terserah lah orang yg mau merokok atau nggak, asal ga ganggu orang lain ajaahh.. ๐Ÿ˜€

  14. that’s definitely true ta, sebenernya semua harus tau posisinya, salah satu sahabat gw juga perokok aktif, suka gw omel2in dan sindir-sindir especially saat gw hamil kayak gini. Karena entah kenapa kadang yang paling gw ga suka adalah mereka suka pakai alasan ‘mulut gw asem’, ‘aduh nggak tahan nih’, etc. Jadinya dia lebih pilih jauh-jauh dari gw deh drpada kena sindir, hehehe…eh aduh, gw salah id multiply… ya udah biarin lah.. hihihih….

  15. galeriindonesia said: mereka suka pakai alasan ‘mulut gw asem’, ‘aduh nggak tahan nih’, etc.

    jawab gini aja, say: “DL. Derita Looooeeee..” huahuahuahua…iya egois banget yah mrk, cuma karena mulutnya asem trs mrk ‘harus’ ngerokok & ngeganggu orang laen dg asap bau itu?? bunuh diri aje luuuu… hehehe…

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s