Teman Bercerita

Aku tidak tahu pasti pukul berapa sekarang, aku bahkan terlalu lemah untuk menoleh ke arah jam dinding di sebelah kanan atasku. Yang aku tahu pasti malam sudah sangat larut. Sepertinya sudah lama sekali sejak kunjungan terakhir dokter dan suster jaga yang mengontrol selang-selang di tubuhku. Bunyi statis dari mesin yang kusebut sebagai “penyambung nyawa” di sebelahku terdengar lirih seiring dengan degub jantungku. Seperti malam-malam sebelumnya, kamar yang didominasi warna putih hijau ini begitu sunyi dan mencekam. Aku sendirian di sini. Tidak ada keluarga yang menungguikui. Orang tuaku berada di ribuan mil jauhnya dan keadaan membuat mereka tidak bisa datang mengunjungiku. Sementara Sarra, adikku, satu-satunya keluarga yang kumiliki, terpaksa pulang ke rumah beberapa jam yang lalu karena demam.

Tapi aku tidak merasa kesepian, aku sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Rumah sakit ini sudah menjadi rumah keduaku. Kelainan jantung yang kumiliki sejak kecil membuatku akrab dengan para dokter dan susternya, begitu juga dengan bangunan rumah sakit dan setiap sudut-sudutnya.

Sebuah suara halus tertangkap oleh telingaku. Nyaris tak terdengar namun aku dapat mendengarnya karena keheningan ruangan ini. Seperti suara pintu yang dibuka dan ditutup dengan sangat pelan. Mataku melirik ke arah pintu yang tertutup rapat.

“Elvira. Apa aku membangunkanmu?” tanya sebuah suara yang dulu sangat akrab di telingaku namun sudah lama tak kudengar. Aku tersenyum, “Nggak. Aku belum tidur…”

“Susah tidur, El?” tanyanya lagi.
“Sepertinya aku sudah tidur terlalu lama. Mataku sedang capek terpejam tampaknya” aku berseloroh. Dio tertawa kecil.
“Mau aku temani? Aku ada cerita baru,” ujarnya riang. Aku tersenyum tanda mengiyakannya.

Kemudian Dio mulai bercerita. Apapun yang ia tahu, ia alami, atau ia lihat, ia akan menceritakannya padaku. Sejak dulu Dio memang suka bercerita. Meski dokter menyuruhnya untuk menyimpan energi yang ia punya, karena setiap ia terlalu banyak bicara ia akan terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah. Namun begitu, hampir tiap malam Dio mengunjungi kamarku dan menemaniku dengan cerita-ceritanya yang menarik. Pernah ketika ia bercerita, ia tersengal, aku segera menyuruhnya berhenti dan kembali ke kamarnya. Namun ia tetap menemaniku. Dia bilang merasa kasihan denganku karena jauh dari orang tua. Padahal dia sendiri yang seharusnya lebih dikasihani karena ia yatim piatu.

Sewaktu Dio masih bayi, seseorang telah meninggalkannya di depan pintu panti asuhan. Sebuah catatan medis yang menandakan bahwa bayi tersebut punya kelainan jantung dan paru-paru ditemukan di bawah selimutnya. Sejak itu Dio menjadi penghuni dan pasien tetap rumah sakit yang menjadi satu dengan panti asuhan. Karena sifatnya yang periang dan cerdas, ia menjadi pasien favorit dokter dan suster di sini.

Pertama kali aku dibawa ke rumah sakit ini, aku masih kecil, mungkin SD kelas 5. Di rumah sakit inilah aku bertemu dengan Dio dan sejak itu aku berteman dengannya. Dio selalu bertanya kenapa aku sering ke rumah sakit ini. Dan aku selalu membalik pertanyaannya dengan pertanyaan lain, “kenapa setiap aku ke sini selalu ada kamu?” Setelah itu kami pasti tertawa.

Sampai beberapa tahun kemudian, setiap aku dirawat di sini aku masih saja melihatnya. Dan masih sama seperti dulu, dia selalu mengunjungi aku tiap malam. Suatu hari dia tidak pernah datang lagi ke kamarku. Dia meninggal dunia pada pagi hari, setelah semalaman menemaniku dan bercerita tentang lorong gelap dan cahaya terang di ujung lorong itu dalam mimpinya. Juga tentang jurang yang sangat dalam dan ia terperosok ke dalamnya. Pada saat itu aku tidak merasa sedih, karena aku tahu Dio sudah tidak merasakan sakit lagi.

Dan malam ini, beberapa tahun setelah kepergiannya, aku kembali dirawat di rumah sakit ini. Seperti biasa, Dio menemaniku. Kali ini dia bercerita tentang langit.

Advertisements

6 thoughts on “Teman Bercerita

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s