sang pendosa (bag.3)

Starbucks

“Jadi kamu pacaran sama Bayu cuma sebulan setelah kita putus? Pacaran 8 bulan. Trus langsung nikah? Hebat…” Ario bertepuk tangan sambil tersenyum lebar. Menyeringai, tepatnya.

“Jangan ngeledek,” Fira merasa ada nada sinis di antara senyum Ario.

“Nggak. Aku nggak ngeledek. Aku turut senang buat kamu. Berapa bulan usia pernikahanmu sekarang?”

“Really? Thanks.” Fira kikuk. Diseruputnya capuccino yang masih panas. “Empat bulan,” tambahnya.

Geez, udah 4 bulan, ya? Berarti waktu kita ketemu di Jogja itu, kamu lagi bulan madu? Hmm kalo kamu masih sama aku, kamu pasti belum nikah.”

“Ah. Jangan ngomong gitu. Bukan bulan madu, hanya berlibur aja kok. Tapi yah bisa dibilang bulan madu juga sih. Kamu sendiri lagi ada urusan apa di Joga?”

“Nggak ada apa-apa. Cuma main aja. Bosan di Jakarta…”

“Ngomong-ngomong, siapa pacar kamu sekarang?”

“Aku lagi nggak ada pacar. For God’s sake, kita udah setahun putus tapi aku belum bisa ngelupain kamu. Apalagi waktu kita ketemu di Joga dua minggu lalu. Aku kaget setengah mati ngeliat kamu…”

“Masa sih? Cowok kayak kamu sepertinya gak mungkin gak punya pacar. Pasti banyak cewek yang ngantri jadi pacar kamu,” Fira pura-pura tidak mendengar kalimat Ario yang lain.

“Buat apa punya pacar kalo akhirnya nanti ditinggal kawin? Lagipula siapa yang mau sama aku? Kuliah nggak beres. Kerja nggak bener…”

Fira diam. Perasaan tidak enak semakin menusuknya. Ia memainkan cangkir kopinya untuk menyembunyikan kegugupan.

“Bercanda, Fira. Aku cuma bercanda. Maaf…” Ario tersenyum sambil menepuk-nepuk lengan Fira.

“Kamu bikin aku merasa bersalah. Padahal tanpa kamu bikin begitu pun aku udah merasa bersalah.”

“Kamu tahu aku masih mencintaimu…”

“…”

“Kenapa kamu putusin aku dulu?”

“Ario, kita udah pernah bicara soal ini. Aku gak mau bahas lagi,” Fira menghela nafas berat.

Setahun yang lalu ketika Fira mengajak Ario untuk bicara serius, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa meneruskan hubungan mereka lagi karena perbedaan keyakinan. Orang tua Fira ingin anaknya menikah dengan lelaki yang seiman. Sebenarnya Fira juga memiliki keinginan yang sama, tapi ia sudah terlanjur mencintai Ario, lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun. Pada awalnya Fira ingin mempertahankan hubungannya dengan Ario. Namun lama kelamaan ia menyerah dengan keadaan. Ia tidak bisa terus menerus menentang orang tuanya. Ia lelah berdebat. Lagipula ia harus mulai memikirkan masa depannya. Dan ketika ia dikenalkan dengan Bayu, anak dari salah satu kolega papa, ia tidak menolak. Lagipula Bayu menyenangkan sehingga ia merasa senang dan nyaman bersamanya. Ia juga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir ketika Bayu berniat melamarnya. Ia pun menerima lamaran Bayu.

“Kamu tahu, aku hampir gila waktu mendengar kamu akan menikah. Ketika kamu SMS bilang akan menikah, aku melempar HP-ku ke layar TV sampai pecah. HP dan TV-ku rusak. Tapi kerusakannya gak separah hatiku yang hancur,” Ario bertutur pelan.

Fira tidak berkata apa-apa. Hanya air mata yang menetes tanpa suara.

Kamar Hotel

“Kenapa, Fir? Kamu menyesal?” tanya Ario bingung melihat Fira tiba-tiba menangis dalam pelukannya.

(bersambung…)

Advertisements

13 thoughts on “sang pendosa (bag.3)

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s