sang pendosa (bag.2)

Jakarta. Dua minggu kemudian

Fira menelusuri rak-rak buku bagian novel. Tak jelas apa buku yang ia cari, ia hanya melihat-lihat judul buku sambil terus berjalan pelan. Sesekali ia mencabut sebuah buku, memperhatikan sampul depan dan belakangnya, kemudian meletakkannya ke tempat semula. Lalu ia kembali menelusuri rak buku.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Seperti mendapat serangan jantung ringan, ia merasa jantungnya behenti sesaat. Ia melihat sosok itu lagi.

Ario!

Jantungnya yang tadi berhenti kini berdetak dengan kecepatan tinggi. Pikirannya langsung kacau dan ia berkeringat dingin.

Masih segar di ingatannya kejadian 2 minggu yang lalu. Ketika ia berlibur bersama suaminya ke Jogja, dan melihat Ario di jalan Malioboro. Dan kini, 2 minggu setelah pertemuan tak terduga itu, mereka bertemu lagi. Di sini, di Jakarta. Pertanda apakah ini??

“Eh… Fira?” tiba-tiba Ario sudah berada tepat di depannya dan menyapanya.

“Ario? Apa kabar?” Fira menyembunyikan keterkejutannya dengan menggunakan sisa energi yang ada.

“Baik. Kamu?”

“Yah, beginilah,” Fira tersenyum, menyembunyikan ludah yang mencekat tenggorokannya. Aku hampir mati kena serangan jantung karena melihatmu lagi, Ario. Dua kali dalam dua minggu! Tapi Aku begitu gembira melihatmu lagi. Saking gembiranya jantungku hampir saja melompat meninggalkan rongga dadaku.

“Kamu gak kerja?” tanya Fira dan Ario berbarengan. Mereka tertawa.

“Aku freelance, ingat? Aku gak bisa terikat sama jam kerja,” Ario tersenyum. Kaku. “Kamu?”

“Bolos. Bosan sama rutinitas,” Fira cengengesan.

“Dasar… Kamu kebiasaan,” Ario tersenyum. Kali ini lebih rileks. Senyum yang sudah lama tidak Fira lihat. Senyum pertamanya sejak terakhir Fira melihat wajahnya membeku seperti es, setahun lalu ketika Fira mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Bahkan ketika Fira mencium bibirnya waktu itu, ia dapat merasakan hawa dingin yang membekukan keluar dari bibir Ario yang ditutup rapat. Dan Fira menggigil karenanya.

Sekarang Ario tersenyum. Es itu sedikit mencair. Betapa Fira sangat merindukan senyuman itu. Ada udara hangat yang menjalar melalui senyumannya yang singkat. Fira tak berkutik.

Untuk sejenak mereka tak berbicara sama sekali. Hanya mata mereka yang menatap tajam satu sama lain. Seakan berbicara: aku masih mencintaimu!

Kalau kamu masih mencintaiku, kenapa kamu pergi?

Fira menatap mata Ario lebih tajam dari sebelumnya, meminta penjelasan kenapa tiba-tiba ia bisa mendengar suara Ario di kepalanya padahal Ario tidak berkata apa-apa. Ia bahkan tidak membuka mulutnya. Benarkah itu yang ada di pikiran Ario atau Fira berhalusinasi dapat membaca pikiran Ario? Apakah Fira dihantui rasa bersalah sebegitu besar yang membuatnya seakan bisa mendengar jeritan hati lelaki di depannya itu?

“Maafkan aku, Io…”

“Aku udah maafkan kamu sejak dulu.”

“Izinkan aku berbuat sesuatu untuk menebus kesalahanku.”

“Apa?”

“Nggak tahu. Mungkin aku bisa mentraktirmu makan siang atau minum kopi? Sebagai teman lama? Gimana?” entah mengapa Fira punya ide seperti itu. Suasana mengalir begitu saja.

“Teman lama?”

Fira kembali merasa tidak enak mendengar nada bicara Ario. Seakan ia mengejeknya dan meneruskan kalimatnya dengan ucapan yang tak kalah sadisnya: Jadi kepergianmu hanya bisa ditebus dengan mentraktirku makan siang atau minum kopi, begitu?

“Umm… itu kalau kamu ada waktu…” Fira tergagap.

“Ada. Aku ada waktu. Ayo,” Ario mantap.


(bersambung…)

Advertisements

12 thoughts on “sang pendosa (bag.2)

  1. kenapa di bayangan gua malah komedi ya. sebab si Ario ini kan suka tiba-tiba nongol, jadi keingetan sama film Top Secret! dimana ada sosok yang selalu nongol, dan selalu disambut dengan teriakan… “Latreeeennneee…!”which is.. in funny tone.atau gak di slowmotion kayak di film apa tuh, yang kalo ceweknya muncul langsung slowmotion dan ada background lagu jadul. jadi pas kaget liat Ario…”Ario!”langsung beralih ke adegan slowmotion Ario tersenyum, trus matahari terbit dibelakangnya dengan soundtrack lagunya Barry Manilow…okey. hit me. :p

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s