sang pendosa (bag.1)

Malioboro

Mereka menelusuri jalan Malioboro yang sesak bergandengan tangan sambil melihat-lihat barang dagangan yang digelar di pinggir jalan. Mulai dari baju batik, kaus, sandal anyaman, sarung bantal, sampai pernak pernik yang menampilkan kekhasan kota Jogja. Semua orang berbaur di sepanjang jalan sempit itu, berjalan perlahan bagai arus lalu lintas manusia yang padat merayap. Membuat langkah mereka tersendat atau bahkan kadang terhenti untuk beberapa saat.

Tiba-tiba mata Fira menangkap satu sosok yang timbul tenggelam di antara keramaian orang banyak. Sosok yang sudah setahun tidak pernah ia lihat lagi. Dan tiba-tiba orang itu muncul di sini.

Ario!

Sedang apa dia di Jogja?

Ario berjalan pelan namun mantap, dengan jaket capuchon hitam dan tas ransel di bahunya. Walau kadang hilang oleh kepala banyak orang di sekelilingnya namun tinggi badannya membuatnya tetap terlihat menonjol. Fira bergetar dan bulu kuduknya meremang. Ia seperti melihat hantu.

Jantung Fira berdetak tak karuan. Ia terus berjalan di samping Bayu sambil mencuri pandang ke arah sosok Ario yang semakin mendekat. Sampai ketika mata mereka bertemu, sekilas Fira melihat keterkejutan juga di wajah Ario. Dia pasti nggak menyangka akan bertemu aku di sini, sama halnya dengan aku, pikir Fira.

Mereka semakin mendekat dan akhirnya berhadapan. Namun mereka masing-masing sengaja memalingkan muka dengan kikuk.

Ketika bahu mereka bersenggolan, Fira merasa bagai terjebak dalam adegan slow motion. Ia merasa jiwanya terlepas dari raga. Seakan sesuatu di dalam tubuhnya diam di tempat lalu jatuh berlutut sambil menangis di hadapan Ario. Sementara raganya tetap berjalan bersama Bayu.

Tiga detik kemudian suasana berubah menjadi normal kembali. Fira kembali ke tubuhnya, kembali berada di samping Bayu yang sedari tadi menggenggam tangannya. Ia menoleh ke belakang. Punggung Ario menghilang di antara keramaian. Ia pun melirik Bayu. Tampaknya lelaki itu tidak menyadari kalau barusan ia mengandeng seseorang tanpa jiwa. Jiwa itu tertinggal di belakang sana…

Sisa sore yang teduh itu tak bisa ia nikmati kembali. Tubuhnya menggigil dan langkahnya limbung. Mungkin karena tadi sempat ditinggalkan oleh jiwanya sendiri. Ia mengajak Bayu kembali ke hotel. Hilang sudah hasratnya untuk berbelanja. Ia ingin istirahat.

Di dalam kamar mereka, Fira berusaha memejamkan mata, berusaha menguap bersama pengharum ruangan dan kesejukan yang diciptakan di kamar hotel ini. Tapi film slow motion di otaknya terus berputar dan berputar, memperlihatkan sosok Ario dengan wajah dinginnya yang terlihat terkejut ketika melihat Fira. Kemudian jiwanya yang dengan sengaja berhenti di tempat, meninggalkan tubuhnya, dan jatuh berlutut. Ia mencelos bagai selongsong kosong sewaktu melihat jiwa Ario pun meninggalkan tubuhnya untuk menghampiri jiwanya. Dan kedua jiwa itu berpelukan, di antara orang-orang yang lalu lalang menembus ketransparanan tubuh mereka. Ia bisa melihat dengan jelas semua adegan itu. Dan ketika jiwanya harus kembali ke tubuhnya, Fira berkeringat dingin dan lemas.

“Kamu sakit, sayang?” tanya Bayu lembut, memijit kepala Fira.

“Pusing…”

“Aku bikin sembuh, ya?” Bayu mulai membuka kancing kemeja Fira.

“Aku pusing, Bay…” Fira berusaha menolak dengan halus. Tapi Bayu malah menempelkan jarinya ke bibir Fira, mengisyaratkan agar Fira diam. Bayu pun mulai memberi sentuhan-sentuhan di berbagai tempat.

Fira hanya berbaring diam, tak banyak memberi respon balik atas perlakuan Bayu. Sepertinya Bayu tak keberatan dengan sikap pasif Fira. Tampaknya Bayu sedang menikmati perannya sebagai penjajah mutlak atas tubuh istrinya itu.

Let me serve you, my love…”

Fira membuka mata dan memandang Bayu. Tapi yang ia lihat adalah wajah Ario. Fira mulai bergerak, memeluk erat tubuh yang bergerak naik turun di atasnya, seakan tak mau melepaskannya. Bayu memeluknya lebih erat lagi dan membisikkan kata cinta. Namun bukan suara Bayu yang terdengar olehnya, melainkan suara Ario. Otot-otot yang mengejang itu juga bukan kepunyaan Bayu, tapi kepunyaan Ario.

Fira merasa sudah tidak waras lagi. Bercinta dengan suaminya tapi membayangkan lelaki lain dari masa lalunya. Ia menjerit dalam hati, Ya Tuhan, terkutuklah aku!

(bersambung…)

Advertisements

12 thoughts on “sang pendosa (bag.1)

  1. tenang, li… semuanya 12 halaman. keknya bakal banyak nih sambungannya. hehehe…sedikit aga stres gue bikin ini, udah gue kurang2in masih banyak juga. padahal mau gue kirim ke majalah. sementara mereka menetapkan 7 halaman aja… huhu… daripada potong sana sini jadi ga berbentuk, mending gue post di sini. hehe 🙂

  2. Tulisannya bagus banget loh…Menurut saya mending di kirim ke majalah ato diterbitkan. Bukan apa-apa, kalo ada yang mengambil ato terinspirasi dan dia tulis ulang lalu di publish… aduh sayang banget.Ato mungkin hanya di share untuk network aja, kalo bocor dan ada yg menyalahgunakan bisa dilacak. Soalnya temen MP saya pernah kejadian, postingannya di colong. Kalo cuma buat dipajang-pajang diblog dia sih ok ok aja, anggep aja penghargaan. Kalo dia mengambil keuntungan … yah kan bikin sedih banget …..Beneran… dirimu bagus sekali menulis cerita…

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s