kartu kredit BNI: to whom it may concern

Kepada Yth
Pengurus Kartu Kredit BNI
Saya menulis semua ini bukan untuk mencampuri urusan hutang piutang seseorang dengan pihak bank, tapi karena saya merasa terganggu oleh telepon-telepon dari pihak BNI yang sudah seperti teror untuk keluarga saya.
Saya Ita. Teman saya, N.O (lahir 18 Oktober 19**), adalah pemegang kartu kredit BNI. Memang nama saya yang dicantumkan untuk urusan darurat pada waktu mengisi aplikasi kartu kredit. Awalnya saya tidak keberatan jika saya ditelepon dan dimintai informasi. Karena saya juga mencantumkan namanya untuk urusan darurat juga pada aplikasi kartu kredit saya. Kebetulan dulu kami bertetangga dan berteman sejak kecil.
Namun beberapa bulan belakangan ini keluarga saya merasa terganggu oleh telepon-telepon dari pihak BNI yang menanyakan tentang keberadaan N.O (selanjutnya disebut β€œybs” = yang bersangkutan), teman saya itu. Memang, ybs telah pindah rumah setelah dia menikah. Tetapi hanya dia dan suaminya yang pindah, keluarganya tetap tinggal di rumah lama. Itu pun pindahnya juga tidak terlalu jauh, hanya berjarak kurang lebih 100 meter. Tapi karena kesibukan kami masing2, kami jarang sekali bertemu.
Mungkin, ketika pihak BNI menelepon ke HP-nya tidak bisa dihubungi, karena memang dia ganti nomor HP. Lalu pihak BNI menelepon ke rumah saya. Berhubung pihak BNI menelepon di siang hari, otomatis saya tidak pernah ada di rumah karena saya sedang berada di kantor. Ibu saya yang berada di rumah lah yang menjawab telepon. Tentu saja beliau tidak tahu apa-apa. Ibu saya hanya tahu bahwa ybs sudah pindah, namun beliau tidak tahu nomor HP ybs yang baru.
Ibu saya menyampaikan hal tersebut ke saya sewaktu saya di rumah. Lalu saya berinisiatif menelepon ybs dan menyampaikan hal tersebut. Saya pikir urusan sudah selesai. Ybs sudah tahu bahwa pihak BNI mencarinya, dan urusan dia dengan BNI bisa diselesaikan sendiri.
Namun pihak BNI kembali menelepon rumah saya dengan pertanyaan yang sama. Tidak hanya dua kali atau tiga kali tapi berkali-kali dan kadang di waktu-waktu yang mengganggu seperti waktu tidur siang (di rumah ada keponakan saya yang masih kecil) dan waktu sholat. Lama kelamaan Ibu saya merasa benar-benar terganggu. Sehingga saya bilang ke ibu kalau pihak BNI telepon lagi suruh saja telepon ke rumah lama ybs atau ke HP saya (08151000****), nanti saya kasih info. Dan, lagi-lagi, saya beritahu ybs bahwa pihak BNI mencarinya.
Beberapa waktu kemudian tidak ada lagi telepon dari BNI. Saya pikir urusan sudah beres.
Tapi ternyata keluarga saya kembali merasa terganggu oleh telepon-telepon dari BNI. Apalagi nada bicara si penelepon marah-marah. Orang di rumah saya semakin kesal dimarahi orang tak dikenal untuk urusan yang mereka tidak tahu apa-apa. Saya pun kembali menghubungi ybs. Tapi waktu itu dia memang susah dihubungi.
Sekitar dua minggu yang lalu pihak BNI kembali menelepon ke rumah saya. Kebetulan saya ada di rumah karena sedang sakit, tidak masuk kantor. Maka saya jelaskan semuanya. Saya beri nomor HP ybs yang baru (987**** (esia) – setidaknya itu nomor HP terakhirnya yang saya tahu). Saya juga bilang ke si penelepon kalau nomor rumahnya masih yang lama (392****) dan masih ditempati keluarganya. Saya pikir saya sudah beri semua informasi tentang ybs yang saya tahu. Selanjutnya pihak BNI silakan menghubungi nomor-nomor yang saya berikan. Habis perkara.
Tapi ternyata masih saja pihak BNI menelepon ke rumah. Dengan nada marah-marah pula. Puncaknya kemarin sore, kebetulan adik saya yang menerima telepon. Adik saya marah karena si penelepon marah-marah dan mengancam serta menyuruh saya yang membayar hutang ybs.
Kesabaran saya dan keluarga sudah habis.
Saya langsung menelepon ybs, kebetulan yang mengangkat adalah suaminya. Saya ceritakan semua. Lalu saya juga menelepon BNI dan mengadukan keberatan saya. Saya bilang saya tidak keberatan kalau dimintai keterangan, tapi kalau sudah puluhan kali telepon, sudah beri semua informasi yang saya tahu, tapi masih juga menanyakan hal yang sama, tentunya saya jadi merasa terganggu. Apalagi dengan nada marah-marah dan pakai ancaman segala. Kenapa jadi keluarga saya yang diteror? Kenapa jadi saya yang harus bertanggung jawab? Kalau ybs tidak bisa dihubungi, bukan berarti saya yang harus bertanggung jawab. Memang nama & nomor telepon saya dicantumkan di aplikasi, tapi hanya sekedar sebagai pemberi informasi jika diperlukan dan dalam keadaan darurat. Bukan sebagai penanggung jawab.
Setelah saya menghubungi BNI, saya kembali menghubungi ybs. Masih suaminya yang mengangkat telepon. Ternyata nomornya itu dipakai suaminya dan ybs memakai nomor baru (flexi). Saya bahkan tidak tahu nomor telepon itu. Tapi saya tetap bicara pada suami ybs dan meminta mereka untuk menghubungi BNI.
Sekali lagi saya tekankan, saya menulis semua ini bukan untuk mencampuri urusan ybs, tapi karena saya merasa keberatan oleh telepon-telepon dari pihak BNI yang sudah seperti teror untuk keluarga saya. Karena saya pikir saya sudah memberikan semua informasi yang saya tahu dan saya juga sudah menyampaikan hal tersebut kepada ybs. Tapi mengapa masih saja diteror?????
Urusan hutang piutang ybs dengan BNI bukan urusan saya. Kebetulan saya hanya orang yang bisa dihubungi jika keadaan darurat. Tapi SAYA BUKAN ORANG YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB.
Yang saya heran, kenapa pihak BNI selalu mencari ybs ke rumah saya? Kenapa tidak telepon ke rumahnya? Tentu BNI punya data-datanya kan? Jika saja pihak BNI menelepon ke rumahnya, yg saya yakin nomor teleponnya dicantumkan di aplikasi kartu kreditnya, beserta alamat rumahnya tentu, pasti keluarganya akan memberi informasi yang lebih akurat dibanding saya. Kenapa tidak mendatangi alamat rumah yang tercantum di aplikasi tapi malah mengancam akan mendatangi rumah saya? Dan kenapa bisa sampai berpuluh-puluh kali menelepon dengan masalah yang sama? Apakah informasi yang saya
berikan terakhir tidak dicatat dan tidak di-follow up??
Jika ingin mendatangi rumah saya, silakan. Asal datang dan bicara dengan baik-baik, saya akan menunjukkan rumah lama ybs dan rumah barunya juga.
Perlu diketahui bahwa saya juga nasabah BNI. Tapi sejauh ini tidak ada masalah. Jangan sampai hal ini berpengaruh buruk pada saya dan membuat saya menjadi tidak simpati lagi kepada BNI.
Demikian complain dari saya. Mohon diperhatikan. Karena ternyata kasus ini bukan hanya saya saja yang pernah mengalami. Tapi teman kantor saya juga pernah mengalaminya, dimarah-marahi pihak bank hanya karena dia saudara dari seseorang yang tidak membayar kartu kredit. Padahal dia baru saja pulang dari luar kota, tidak tahu apa-apa.
Saran saya, boleh saja menelepon orang yg namanya tercantum sebagai orang yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat, tapi tolong dengan nada baik-baik. Jangan marah-marah dan mengancam segala. Jika kami tahu, maka kami akan memberi tahu. Jika tidak, itu sudah di luar kuasa kami. Karena belum tentu kami tahu semuanya. Seharusnya pihak bank lebih pintar dalam mencari data dan mem-follow up semua informasi terbaru yang sudah diberikan. Jangan hanya mengandalkan telepon dan memarahi orang yang ketiban sial karena nomor teleponnya ada di surat aplikasi.
Terima kasih atas perhatiannya.
Semoga semua urusan cepat selesai.


Salam,
Ita
Advertisements

45 thoughts on “kartu kredit BNI: to whom it may concern

  1. Tulis di koran aja Tadari beberap keluhan serupa yg ditulis di surat pembacakebanyakan ada tanggapan dari bank.Kalo tahu nomor penelponya, bales diteror aja dia.

  2. @manda: yaps. bete sekali, manda. tapi gue kasiannya sama nyokap yg di rumah tiap hari. ketiban sial mulu angkat telpon. makanya kmrn sama ade gue ditantang suruh ke rumah sekalian. mau diajak ke rumah ybs ajah. huhu…@omhanif: pengennya sih om. tapi liat nanti deh. semalem aku udah tlp BNI dan tadi pagi aku juga udah kirim imel. kalo masih diteror juga, baru deh ke koran…

  3. wahhh .. BNI emang gitu.. dulu gue juga punya.. orang2 nya kasar2sekarang BNI gue dah gue tutup..mereka itu gak professional…kalo yang baik itu CC dari perusahaan luar, kayak citibank, hsbcanyway..sabar ya bo..

  4. @ella: kalo BNI gue ga bikin CC-nya. yg gue punya citibank. iya, kalo citibank orangnya cukup baik emang. hmm tapi ga tau ya sampe sebatas mana baiknya. waktu itu gue cuma telat 2 hari gara2 gue lupa banget berhubung lagi liburan. mrk sih nanya baik2 kapan mau dibayar. tapi ga tau deh kalo gue telat sampe lebih dari 2 bulan. huhuhu πŸ˜›

  5. iya mbak, masukkin ke koran saja…atau ya datangin langsung tuh pihak bni…kalo belum mempan juga, telusuri siapa pegawai yg menelpon itu mbak, bisa dimulai dari melacak nomor telpon yang masuk ke rumahpehh, semoga segera berakhir ya mbak ribetnya..

  6. makanya pilih penerbit kartu kredit yg ga model debt collector, tapi kasih benefit, misalnya cicilan tanpa bunga, tukar poin dgn voucher yg bisa dipake nambahin beli mesin cuci πŸ˜€ *pengalaman pake kartu kredit sudah 11 tahun ga pernah ngalamin beginian sih*

  7. “Yang saya heran, kenapa pihak BNI selalu mencari ybs ke rumah saya? Kenapa tidak telepon ke rumahnya? Tentu BNI punya data-datanya kan? Jika saja pihak BNI menelepon ke rumahnya, yg saya yakin nomor teleponnya dicantumkan di aplikasi kartu kreditnya, beserta alamat rumahnya tentu, pasti keluarganya akan memberi informasi yang lebih akurat dibanding saya. Kenapa tidak mendatangi alamat rumah yang tercantum di aplikasi tapi malah mengancam akan mendatangi rumah saya? Dan kenapa bisa sampai berpuluh-puluh kali menelepon dengan masalah yang sama? Apakah informasi yang saya berikan terakhir tidak dicatat dan tidak di-follow up??”Mereka menekan Mbak, lalu Mbak menekan teman Mbak. Bereskan…? Hitung-hitung mereka menggunakan tangan keluarga mbak untuk menyelesaikan urusan mereka. Memang begitu SOPnya.Laporkan polisi saja, bilang di teror! Kalau bisa direkam semua pembicaraan Mbak dan si teroris tadi sebagai barang bukti. Bisa dikenakan pasal perbuatan tak menyenangkan.

  8. ta, lo lagi beriklan BNI yak? banyak banget kata BNI nya :PSama, rumah gue juga pernah diteror kaya ginih, gara ada orang kost numpang alamat. ujung2 nya debt collector nya ngajak ribut … gw suruh dateng kerumah, ujung2 nya ble’e juga.Oiyah kenapa dia suka banget telp berkali2, kayaknya debt collector yg telp orang nya beda2, makanya kenapa lo suruh call lsg ke ybs, kaga dicatet sama tu kutil. Pas ganti yg nelpon elo, masih baca data2 yang lama… muncul deh data elo lagi elo lagi ta :P*huam .. mulet

  9. wah.. gila deh tuh… senep juga gue denger ceritanya.. giliran cari nasabah.. nyembah2.. giliran kga bisa bayar.. diteror… kayanya usul “ferifotografi” cukup bagus tuh.. coba aja ta’ kalo masih diteror…

  10. @lia: iya nanti kalo masih diteror juga. adueh kok gue yg jadi ribet yg harus melacak ini itu. kek gue ga ada kerjaan aja. ga ada waktu gue. lagipula gue tau itu adalah tugas mrk, jadi emang ga bisa apa2. cuma ga terimanya mrk tuh udah melancarkan aksi teror. huhu… *sms temen gue suruh menyelesaikan urusannya segera, jangan sampe gue diteror lagi*@ciput: yg penting pembayaran lancar, yes? ;)@feri: gue tau itu emang tugas mereka. tapi kenapa sih nggak neken ybs langsung?? kok jadi gue yg kebawa2 diteken? udah kepikiran sih lapor polisi atas pasal itu. tapi gada bukti. gimana ngerekamnya coba?? masa gue musti beli pesawat tlp yg lebih canggih lagi? lah gue repot lagi dong… uuugghh…@oliq: atau jangan2 sebenernya mau ngajak gue kenalan kali ya, liq? huehuehue… iya gue tau itu pasti beda2 org yg nelpon. tapi masa ga ada catetannya? ngapain nanya2 kalo jawaban org ga dicatet?? cara kerja macam apa itu? emang niat nyebar teror kali. huh!@joan: hhh.. ngerepotin gue banget yak… musti lapor sana sini segala… blm lagi kalo dipersulit krn ga cukup bukti. whattefuck….

  11. greyskymorning said: gue tau itu pasti beda2 org yg nelpon. tapi masa ga ada catetannya? ngapain nanya2 kalo jawaban org ga dicatet?? cara kerja macam apa itu?

    jadi begini.tiap orang itu beda-beda sebabnya tiap kali satu orang gagal nagih akan langsung dipecat. saat dipecat itu dia kesal, sehingga membakar catatan-catatan yang dia bawa. sehingga penagih berikutnya memulai tanpa data apapun, kecuali data formulir si pemilik rekening. makanya dia akan selalu menelpon ke rumah lo, tsy.jadi maklum kan kalo cara kerjanya seperti itu. ;p

  12. bank yang satu ini emang kancrut.gw dan istri juga pernah mengalami bbrp kejadian ga enak dengan bank ini. mulai dari ktp gw yang ditolak, sampe tranferan duit dari jerman yang dipotong sama mereka. mending dipotong kalo duitnya nyampe.. ini duit ga nyampe. masih dipotong juga.kampret.

  13. @an: ooo gitu ya, an… pantesan aja yaa… *serius*@yani: he?? no kiddin’?? trus? dibalikin ga duitnya?? silakan aja kalo mo ngelink yan… keknya udah aman ya, ga ada informasi orang lain yg gue ekspoitasi? @ambar: huaahh syukurlah kalo begitu. ga punya juga ga rugi kok ;p@oliq: ya?

  14. gak. dititipin sama temen akhirnya duitnya. kancrut kan?kl blum ada tanggapan dari bni, gw link deh. jadi makin banyak yg buka mata atas kekancrutan ini. kalo udah ada tanggapan. minimal minta maaf lah, ya udah. beres berarti.

  15. sipp… mudah2an dpt tanggapan ya, yan. dari kemaren gue udah kirim imel ke mrk, 2x ke alamat yg berbeda, blm ada tanggapan juga. temen gue udah gue ingetin lagi, gue smsin supaya segera ngeberesin urusannya krn gue ga mau dpt teror lagi. yah mudah2an segera beres lah urusannya…

  16. kalo ga ada positive respon, kirim ke kompas, ke milis-milis, termasuk milis tarki.krn itu yg gue lakukan waktu komplen ttg esia. setelah posting di milis, hari itu juga gue ditelp dan besok didatengin lalu masalah clear.emang siy, antara masalah bni dan esia ini bukan seperti apple to apple. trus temen lo yg adalah nasabahnya gimana, ta?

  17. @uthe: niatnya gitu, the. kalo mrk masih tlp juga, gue kirim ke surat pembaca, milis2, dll.nah itu dia… temen gue udah gue kasih tau, lewat tlp & sms, tapi dia ga ngasih kabar apa udah diberesin apa belom. jadi gue ga tau juga kelanjutannya. asal jangan ditelpon sama bni aja lagi… huhu…@rebby: jadi baru ditanggapi ketika udah disebarin di media massa?? kacrut nian…

  18. turut prihatin, ita. bank, untuk urusan kartu kredit, biasanya menyewa preman (debt collector). namanya juga preman, nggak punya etika, nggak punya otak. ya begitulah, bukan hanya ybs, tapi juga orang-orang dekatnya yang jadi referensi kartu kredit. angkat aja masalah ini ke surat pembaca koran-koran nasional. kompas, misalnya. biar pihak bank, termasuk direksi bni 46 membaca keluhan ini.

  19. @mas tian: ooohh.. jadi kalo cuma sekedar telpon & imel langsung ke customer service-nya ga ngaruh ya mas? harus pake cara rame2 gitu? lewat media massa? jadi buat apa customer service mereka ya?? huhu.. nanti deh mas, tunggu perkembangannya dulu… thx atas keprihatinannya :)@oliq: gue mau liat perkembangannya dulu, liq. kalo mrk masih tlp juga, baru gue ke media massa. utk sementara ini cukup imel langsung ke cs-nya dan gue posting di sini dulu. yani juga udah bantu nge-link blog gue ini. dia juga punya pengalaman buruk sama BNI. dan ternyata banyak org yg pernah punya pengalaman ga enak… @aya: sebenernya bukan gue yg angkat telp. orang rumah gue, biasanya nyokap yg emang selalu ada di rumah yg ketiban sial. gue cuma denger ceritanya aja sewot. kesel banget gue… ndablek banget sih, pdhal udah dikasih informasi, masih aja nanya2. mending kalo nanyanya baek2… 😦

  20. @novi: haduh kalo gitu gue harus segera ngambil sesuatu dari sana yg gue titipin di situ nih…@mas didin: huehuehuehue… berarti bener dong indonesia sarang teroris?? :P@donny: hmm.. nanti kalo terjadi lagi, gue titip elo aja kirim ke kompas ok? utk sementara liat keadaan dulu, ada perubahan apa nggak… thx anyway don…

  21. UPDATE:gue udah dapet tanggapan dari Correspondence Officer-nya BNI nih:— cut email —-Sehubungan dengan keluhan Ibu, sebelumnya kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Ibu alami. Keluhan Ibu telah kami sampaikan ke bagian penagihan kami untuk ditindaklanjuti. Kami berharap hal ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.— cut email —yah untuk sementara kita lihat dulu gimana kelanjutannya. mudah2an abis ini ga ada lagi preman2 BNI yg nelponin ke rumah gue, atau ke rumah org lain yg dijadikan referensi. fiuh…

  22. Urusan utang-utangan emang bikin runyam…bank juga udah kelewat gampang kasih approval buat kartu kredit..Pelajaran buat kita semua tuh… ga usah ngutang deh!!!!

  23. biar mamp** tuh BNI, macem2 sama dedengkot MP – dijurnalin deh! kayaknya YLKI harus berbuat sesuatu soal ini deh, udah banyak komplen sejenis soal perilaku penagihan kartu kredit yang kampungan…

  24. waduh, tar aku laporin ke AVP-nya deh angel kalo masih macem-macem.. kebetulan kemaren masih sempat ngobrol2 abis ngerjain proyek.. catet aja berapa NIK-nya.. mau gangguin angel sayah.. huh…dasar, karyawan bank ga pernah ikutan pelatihan Standar Arsitektur Layanan gitu tuh..huh *mangkel*

  25. @sophie: iyahh.. bunganya ga nahaannn :P@mbot: waks! yg dedengkot bukan sayaaaahhh.. huehuehue…. ember, udah banyak komplen tapi kok masih aja kejadian. huhu…@hilda: hehehe…. mau doong ditelpon sama kamyuuuuu.. ;p@putzki: hehehe… kalem putz kalem… mereka udah minta maaf kok ke aku. mrk bilang itu debt collectornya dan udah ditegor. trus mrk mo nyelesein ke temenku langsung. hehe… cupcupcup… πŸ˜‰

  26. wah pernah tuhdulu bokap gue sering nunggakgue pura2 aja jadi anak smpsok lugu2 gitutapi ketauan jugasomehow dia pegang data gueklo gue dah kerja dlldamn!!tapi menyenangkanbikin si debt collector keselhahahaha

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s