percobaan bunuh diri

Luna mengetuk pintu kamar itu dengan tergesa-gesa. Tidak ada jawaban, ia pun mencoba membuka pintu itu. Terkunci. Ia kembali mengetuk-ngetuk pintu juga jendela. Namun kamar itu tetap sepi. Tidak ada suara dari dalam sama sekali.

“Orangnya lagi keluar kali, Mbak,” sebuah kepala muncul dari kamar sebelah.
“Mas ngeliat dia keluar?”
“Nggak, sih. Saya nggak lihat… Ada motornya nggak di depan?”
“Ada,” jawab Luna cepat. Ia segera teringat ponselnya, “Tapi saya telepon nggak diangkat,” ia pun men-dial nomor Arjuna.

Lamat-lamat terdengar suara telepon berbunyi dari dalam kamar. Tapi tidak ada yang menjawab telepon itu sama sekali.

“Mungkin dia lagi keluar sebentar cari makanan. HP-nya ditinggal. Tunggu aja, Mbak…”
“Dia ada di dalam,” Luna berkata tajam. Sejurus kemudian ia kembali menggedor-gedor pintu kamar itu sambil memanggil nama Arjuna.
“Jun, buka pintu. Aku tahu kamu di dalam.”
Tidak ada sahutan.
“Mbak siapa, ya? Apa perlu saya panggil ibu kos?”
“Saya Luna, temennya Arjuna. Boleh minta tolong panggil ibu kos sekalian sama kunci masternya?”

Lelaki yang tinggal di sebelah kamar Arjuna itu pun berlalu dengan wajah sedikit agak keheranan. Tidak setiap hari rumah kos ini kedatangan tamu perempuan di pagi hari dengan wajah tegang karena yang dikunjungi tidak ada di tempat. Yang kemudian menyuruhnya memanggil ibu kos dan ingin meminjam kunci master. Siapa perempuan ini? Apa hubungannya dengan Arjuna? Ada masalah apa mereka?

Bukan hanya lelaki itu yang bertanya-tanya demikian. Sebagian penghuni kos lain juga terbangun karena mendengar suara berisik segera mencari tahu apa yang tengah terjadi. Dan mereka melihat seorang perempuan berdiri dengan gelisah di depan pintu Arjuna.

Tak lama kemudian ibu kos mereka tiba di depan perempuan itu.

“Cari siapa, Neng?” tanya ibu kos.
“Saya cari Arjuna, Bu,” Luna menjawab dengan ramah. Namun rasa cemas terbaca di wajahnya.
“Neng siapa?”
“Saya Luna, temannya. Tadi saya telepon dari tadi nggak diangkat. Saya ketok pintunya nggak dibuka…”
“Mungkin dia lagi pergi?”
“HP-nya ada di dalam, Bu. Saya telepon kedengaran dari sini.”
“Mungkin ketinggalan. Ada perlu apa? Nanti ibu sampaikan…”
“Saya tahu dia ada di dalam, Bu… Tolong buka pintunya, Bu…”
“Wah, nggak bisa, Neng. Maaf… Ibu nggak mau ganggu privasi…”
“Tapi ini darurat, Bu. Saya tahu dia di dalam.”
“Mungkin dia nggak mau terima Neng?”

Kasak kusuk mulai terdengar di belakang ibu kos. Luna mulai tidak sabar.

“Bu, tolong buka pintu ini. Arjuna mungkin dalam bahaya. Kita harus segera buka pintu ini kalau nggak mau terlambat.”
“Maksud Neng apa?”
“Ibuuu.. tolong buka pintunyaaaa…” Luna membujuk ibu kos dengan suara setengah memaksa.
“Neng nggak bisa seenaknya di sini. Di sini ada aturannya!” wajah ibu kos mengeras. “Sebaiknya Neng pergi dari sini…”

Luna putus asa. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan dompetnya. “Maaf, Bu. Bukannya saya mau mengacau di sini. Saya datang dengan damai. Saya cuma ingin memastikan apakah Arjuna ada di dalam atau tidak. Itu saja. Kalau memang Arjuna nggak ada, saya akan langsung pergi dari sini,” ia mengeluarkan selembar lima puluh ribu dari dompetnya dan menyematkannya ke tangan ibu kos.
“Kalau ternyata ada? Saya nggak enak sama dia kalau ketahuan saya buka pintu kamarnya pakai kunci saya.”
“Saya yang tanggung jawab, Bu.”

Setelah berpikir sebentar, ibu kos mengeluarkan serangkaian anak kunci dari sakunya. Dimasukkannya salah satu anak kunci ke dalam lubang kunci.

“Nggak bisa, Neng. Kuncinya ngegantung di dalam.”
“Berarti benar Arjuna ada di dalam!” Luna merebut serangkaian anak kunci dari tangan ibu kos. Dan dengan gerakan cepat ia langsung mengayunkan rangkaian anak kunci itu ke arah jendela kaca. Kaca itu pun pecah seketika.

Suasana langsung bertambah gaduh. Ibu kos meneriakinya dan menarik tangannya agar segera pergi dari situ. Tapi Luna menjulurkan tangannya ke dalam jendela, menerobos sisa-sisa kaca hingga tangannya tergores pecahan kaca, dan dengan susah payah mencari anak kunci di lubang kunci bagian dalam. Ia pun segera memutar anak kunci itu dan langsung membuka pintu itu. Semuanya terjadi begitu cepat.

Pintu itu akhirnya terkuak. Ternyata di dalam kamar itu gelap gulita dan sepi. Keramaian segera terhenti dan mereka berdiri begitu saja di depan pintu yang terbuka.

“Arjuna!” Luna segera menghambur ke dalam kamar dan menyalakan lampu. Diikuti ibu kos dan yang lainnya. Mereka melihat Arjuna di atas tempat tidur, terkapar memunggungi mereka. Tangannya yang satu menjuntai ke lantai. Di sekitarnya ada beberapa butir obat kecil berwarna putih dan tube plastik yang kosong.

“Arjuna!” Luna mengangkat kepala Arjuna dan menepuk-nepuk pipinya. “Bangun, Jun!”
“Panggil Bapak!” ibu kos berteriak menyuruh sesorang memanggil suaminya. “Antar dia ke rumah sakit!”

Pagi itu, rumah kos itu mendadak heboh.

note: gue lagi bikin novel baru. judulnya segitiga. dan gue posting ini dg susah payah menambahkan ‘br’ ‘br’ di setiap akhir kalimat. dari word, gue copy ke notepad dulu utk gue edit. leot compose gue masih kacrut. pdhal pake mozilla firefox. huhu…

Advertisements

7 thoughts on “percobaan bunuh diri

say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s