sigota

Archive for December, 2011|Monthly archive page

Banci Terselubung

In opinion on Dec 18, 2011 @ 21:12 at 9:12 pm

Sore tadi di KRL Commuter jurusan Depok, penumpang cukup ramai. Seorang ibu menggendong anaknya masuk ke gerbong, celingukan mencari tempat duduk yang tersisa. Tapi nihil, gerbong penuh, orang yang berdiri pun banyak.

Ibu itu berdiri di seberang saya. Tepat di depannya, duduk seorang lelaki sibuk (atau pura-pura sibuk) dengan hpnya. Di sebelah lelaki itu, duduk seorang lelaki yang lebih muda dari lelaki pertama, memakai topi, menunduk dalam, mungkin tidur (atau pura-pura tidur). Di sebelahnya lagi, ada lelaki yang lebih terlihat makmur, bersedekap dan memejamkan mata (atau pura-pura memejamkan mata). Tidak ada yang bergeming dari tempat duduknya. Tidak juga bapak-bapak lain yang duduk di bangku lain yang masih dekat dengan ibu itu.

Saya tunggu beberapa saat, tidak ada yang bangun memberi tempat duduk untuk ibu itu, akhirnya saya bangun dan memanggil si ibu. Kebetulan saya sudah merasa kurang nyaman duduk menghadap banyak orang yang berdiri di depan saya. Jadi saya lebih memilih untuk berdiri saja dan memberikan tempat duduk saya ke ibu itu.

Saya sengaja berdiri di tempat ibu tadi berdiri, ingin tahu reaksi banci-banci yang duduk di sana. Lelaki pertama masih sibuk dengan hp-nya, lelaki kedua masih menundukkan kepala, lelaki ketiga terbangun dan clangak clinguk melihat ke luar jendela. HAH! Oh ya, ada lelaki keempat, tapi sudah agak tua, kurus, dan terlihat lelah. Jadi saya maklumi jika beliau tidak ingin memberi bangkunya pada ibu tadi. Sementara ketiga lelaki yang di depan saya masih muda dan terlihat segar bugar. Ini lah mereka.

Dalam hati saya merutuk: “Besok kalian pada implant payudara & vagina, ya?!!”

Bukan, bukan karena saya jadi berdiri dan mereka tetap duduk. Saya merutuk karena mereka tidak peduli pada ibu tadi, yang menggendong anaknya, sementara mereka adalah lelaki. Dari fisik saja terlihat mereka lebih kuat dari ibu tadi. Apa mereka tidak ingat  ibu mereka, istri mereka, anak mereka? Bagaimana kalau ibu atau istri dan anak mereka mengalami hal seperti itu?

Hebatnya, ketika kondektur datang, mereka dengan sigap mengeluarkan karcis mereka. Dan di salah satu stasiun, lelaki pertama sigap turun. Saya pikir, “Jaelah, tinggal 2-3 stasiun doang elu ga mau kasih duduk buat ibu-ibu?? Besok pake rok ya, jeung!”

Seketika lelaki kedua yang dari tadi tidur (atau pura-pura tidur) bangun dan memanggil lelaki tua di sebelah lelaki ketiga, dan menyuruhnya duduk di sebelahnya. Dua stasiun berikutnya, lelaki ketiga pun turun dengan tak kalah sigap.

Tepuk tangan untuk mereka. Bravo atas akting mereka tidur nyenyak ketika ada ibu-ibu gendong anak dan bisa langsung bangun begitu ada kondektur atau telah sampai stasiun yang dituju. Hebat! Lelaki-lelaki Indonesia sungguh gentleman dan perkasa.

Selamat, bapak-bapak, anda telah menjadi banci terselubung.

Domain

In rambling on Dec 11, 2011 @ 20:25 at 8:25 pm

Hari ini saya menerima email dari sebuah perusahaan hosting service:

“Anda menerima pemberitahuan ini karena domain anda: sigota.com, akan segera kadaluwarsa dalam 60 hari.”

Waks, sudah mau setahun lagi aja tu domain, tapi belum pernah saya gunakan *doh*

Sebenarnya saya sudah 2 tahun memiliki domain itu. Tahun lalu malah bukan cuma domain, tapi juga hosting. Karena belum terpakai, maka saya hanya melanjutkan domainnya saja. Tadinya niatnya sih untuk bikin website sendiri, yang akan diisi dengan kumpulan portfolio saya, tulisan baik puisi atau cerpen, foto, komik buatan sendiri, dan lain-lain. Tapi ternyata, selama 2 tahun ini web pribadi itu tidak pernah dibuat. Hanya di awal saja saya membuat desainnya, selanjutnya tidak pernah diteruskan. Dasar saya pemalas -_-

Sekarang sudah mau habis lagi masa berlakunya. Hmm.. perlu saya perpanjang atau sudahi saja ya? Diperpanjang pun belum tentu dikerjain sih, hehe… :P

 

image: ipkomputer.blogspot.com

Perubahan

In rambling on Dec 10, 2011 @ 10:11 at 10:11 am

“Sejak kamu pindah, kamu berubah, Ta. Aura kamu jadi lebih cerah, gak gloomy lagi,” kata seorang teman semalam. Dia pernah mengatakan hal semacam itu sebelumnya, kira-kira seminggu atau 2 minggu setelah saya resign dari kantor, beberapa bulan yang lalu.

Saya resign dari kantor tempat saya bekerja sejak pertengahan September 2011 lalu. Kantor yang pernah jadi zona nyaman saya, yang saking nyamannya saya betah bekerja di sana selama 12 tahun. Banyak yang heran mengapa saya bisa bertahan selama itu, sementara kebanyakan teman-teman saya sudah berkali-kali pindah kantor. Bagi saya kantor itu dulu adalah taman bermain yang menyenangkan. Tapi seberapa menyenangkan taman bermain itu lama-lama akan membosankan, terlebih jika sudah tidak lagi menyenangkan, itulah saatnya saya memutuskan untuk resign.

Tidak mudah mencari pekerjaan baru, terutama karena umur saya sudah melewati batas usia yang ditetapkan di info lowongan kerja. Mungkin para pemilik perusahaan menganggap karyawan yang mencapai usia tertentu sudah tidak produktif lagi. Mungkin juga karena saya tidak berijazah S1, sehingga saya nyaris tidak pernah mendapat panggilan wawancara. Atau mungkin dengan pengalaman kerja saya, mereka takut saya minta gaji yang sangat besar. Hehe.. Entahlah, mungkin memang belum rejeki saya.

Ketika akhirnya seorang teman menawarkan saya sebuah posisi untuk perusahaan yang baru dibangunnya, langsung saja saya mengiyakannya. Pertimbangannya adalah saya ingin mencoba sesuatu yang baru, ingin lebih berkembang, dan ingin perubahan. Maka saya mengambil resiko meninggalkan perusahaan lama dan bergabung di perusahaan yang baru – secara harfiah.

Tidak mudah membangun perusahaan atau menjadi salah satu dari tim inti yang ikut merintis dari awal. Tapi jika kita berada di tengah kelompok yang punya visi, misi, dan semangat yang sama, segala pengorbanan dan ketidak nyamanan di masa-masa awal insya Allah akan mendapat hasil yang bagus nantinya. Apalagi teman-teman saya sekarang rata-rata usianya jauh lebih muda, saya yang dianugerahi interface yang lebih muda dari usia sebenarnya (tsahh), jadi tambah merasa lebih muda lagi. Hehe…

Perubahan demi perubahan pun terjadi. Karena letak kantor yang jauh, saya akhirnya ngekos. Satu hal yang dari dulu saya ingin lakukan tapi tidak pernah kesampaian karena dari dulu rumah dan kantor jaraknya relatif dekat. Setiap akhir minggu saya naik kereta pulang ke Jakarta. Hari Senin pagi kembali ber-kereta-ria menuju kantor dan selama hari kerja saya tinggal di tempat kos. Ngekos merupakan pengalaman tersendiri yang menyenangkan bagi saya. Setidaknya sejauh ini, karena saya belum mengalami sisi tidak menyenangkannya :P

Jika dulu anak kos identik dengan “kesusahan” (mungkin kalau masih kuliah), alhamdulillah saya tidak sampai “makan mie setiap hari”. Hehe… Entah bagaimana, berat badan saya justru malah bertambah, jadi 50 kg, angka yang sulit saya capai dulu kecuali waktu ngegym dan dipantau oleh Personal Training. Dan itu sudah beberapa tahun yang lalu, ketika berhenti ngegym berat badan saya turun dan stuck di sekitar 47-48 kg. Salah satu penyebabnya karena porsi makan saya sedikit, pola makan tidak teratur dan sering malas makan. Sekarang sejak ngekos, pola makan saya malah jadi teratur dan porsi bertambah. Yang tadinya hanya 1/2 porsi atau 1 porsi namun tidak pernah habis, sekarang saya bisa menghabiskan 1 porsi makanan. Yay! :D

Hidup saya jadi lebih tenang, itu inti dari perubahan ini. Meski perusahaan masih baru, tekanan kerja yang mulai memacu adrenalin, setiap minggu bolak balik naek kereta, tapi saya menjalaninnya dengan tenang. Ada semangat baru, passion baru, ritme baru, teman-teman baru, lingkungan baru, target baru. Mungkin itu yang bikin “aura saya jadi lebih cerah” :)

Semoga masa depan saya dan perusahaan baru ini juga semakin cerah. Amiin… :)

 

image: ideachampions.com

 

hoho

In Uncategorized on Dec 10, 2011 @ 9:22 at 9:22 am

Haha.. lagi-lagi blog ini terbengkalai begitu saja, sama seperti blog-blog saya sebelumnya :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.